The Journey, vol.8: The Conversation

Kereta Argo Anggrek sudah berjalan kurang lebih 30 menit dari Gambir. Sudah cukup lama. Pasti sudah tidak lagi berada di daerah Jakarta dan menuju Bandung. Sudah selama itu pula aku mengobrol bersama Gia yang duduk di sebelahku.

Gia adalah teman kuliahku dulu. Kita satu universitas, tapi berbeda jurusan dan fakultas. Aku kebetulan mengenalnya ketika mengikuti sebuah kegiatan kampus, dan kita sama-sama menjadi panitia. Ia wanita yang cukup menarik, energik, cerdas, dan selalu terlihat ceria. Seperti saat ini, meski sudah 30 menit kita mengobrol, tapi sepertinya dia tak kehabisan bahan obrolan.

“Jadi, loe kalo sempet selalu hiking gini, Gi?” aku bertanya.

“Iya. Abis gue suka suntuk tiba-tiba, nih. Ini juga kebetulan aja dua hari yang lalu, pas gue telepon temen-temen hiking gue, ada yang ngerespon mau ke Bandung juga.”

“Emang bos loe ga nyap-nyap loe tiba-tiba ambil cuti begini?”

“Bil, itulah bedanya kerja di perusahaan asing dan lokal. Kalo di asing, sepanjang bosnya oke-oke aja, ya ga masalah kalo cuti dadakan. Lagipula, gue kan udah minta cutinya semenjak dua hari yang lalu.” Gia menjelaskan panjang lebar.

Aku manggut-manggut mendengarkan.

“Betewe Bil, loe udah merit?” tanya Gia.

Entah kenapa, pertanyaan sederhana itu tak kuduga sama sekali akan keluar dari Gia. Seorang teman lama yang tak bertemu, tiba-tiba saja menanyakan itu.

“Belum, Gi. Gue masih ngumpulin modal.”

“Calonnya udah ada, artinya dong..”

“Ya udah, lah. Kalo ga ada calonnya, ngapain gue ngumpulin modal?” jawabanku mengundang tawa Gia. “Loe sendiri, gimana?”

“Gue? Hmm… gue sih ga mau dulu ah. Gue masih seneng jalan-jalan, nih. Ntar kan kalo udah merit, ga bisa, Bil. Musti ijin dulu, musti mikirin rumah juga, suami, wah.. RIBET!”

Aku tersenyum mendengarnya.

“Tapi ‘kan kalo misal loe udah merit dan suami loe sama-sama suka hiking, kan makin enak tuh. Jadi sama-sama suka hobi yang sama. Belum lagi nanti ‘kan di dalem tenda bisa ehem-ehem..” aku menggoda Gia.

“Hahahaha… dasar loe!” Gia tertawa lepas. Aku pun demikian halnya.

Sambil tertawa aku memperhatikan Gia. Aneh rasanya dia masih belum memikirkan untuk menikah. Aku yakin sebenarnya banyak pria yang tertarik padanya, namun ditolak mentah-mentah. Atau bisa jadi, pria-pria tersebut memang bukan tipe Gia, seorang petualang yang memiliki komitmen.

“Loe ke Bandung mau ke mana aja, Gi?”

“Yah, target gue sementara ini sih, mau ke Ciwidey, trus Tangkuban Parahu. Itu aja dulu. Kan dua tempat itu yang terkenal.” Jawab Gia.

“Asik ya, kaya’nya..”

“Kapan-kapan, kalo gue hiking lagi, loe ikut aja, Bil.”

“Pengennya sih, gue. Tapi, ribet deh, Gi. Gue susah cuti!”

“Bos loe yang ga ngasih?”

“Bukan, kerjaan gue sering deadline. Dan, kadang gue suka lupa waktu kalo udah ngerjain berdasar deadline itu. Termasuk, lupa hari dan tanggal! Jadi, kalo mau cuti, suka lupa banget.”

“Halah, alesan aja loe. Awas, jangan mencintai pekerjaan loh, Bil. Atau nanti loe bakal terjebak selamanya di pekerjaan itu. Kalo bisa, loe mengerjakan apa yang loe cinta. Itu baru nikmat. Jadi ga bakal lupa macem-macem.”

“Hahaha…” aku tertawa.

“Eh, seriusan gue.” Gia menekankan. “Kalo misal loe ngelakuin pekerjaan yang loe cinta atau suka, pasti kerjaan itu bakal lebih berasa nikmat, dibanding sama loe cinta sama pekerjaan loe.”

Tawaku hilang. Ada benarnya juga perkataan Gia ini. Aku pun langsung bertanya-tanya pada diriku sendiri. Apakah aku mencintai pekerjaanku? Sudahkah aku mengerjakan yang aku cintai?

“Yah, so far sih gue fine-fine aja sama kerjaan gue. Kalopun kadang suntuk atau bete, yah gue masih nganggep itu wajar. Toh, gue masih beruntung bisa kerja dibanding ga kerja.” Aku mencoba berkelit.

“Nah, itu dia paradigma yang salah. Kalo misal masih begitu, gue udah bisa nebak bakal seperti apa loe nantinya. Banter-banter, jajaran management perusahaan loe, atau loe tetep di posisi yang sekarang dengan skill yang lebih banyak.”

“Bagus ‘kan, jadi gue udah pasti selalu kerja.”

“Ya, kerja. Dan mungkin makin ga sempet buat cuti, liburan, atau nikmatin hidup.”

“Emang loe nikmatin hidup, Gi?”

“Hiking menurut gue salah satu cara gue dalam nikmatin hidup. Meski emang kerjaan gue juga padetnya amit-amit, tapi seenggaknya gue punya waktu buat nikmatin hidup gue apa adanya.”

Aku kembali diam. Gia lagi-lagi benar. Betapa terkadang aku sering lupa untuk menyisihkan waktuku untuk menikmati hidupku. Menjalani hidupku. Menyadari hal-hal terkecil dalam hidupku. Betapa sekarang hidupku hanya terbagi tiga, bekerja di kantor, menjalani hubungan dengan Monica, dan juga tetap menjaga hubungan baik dengan keluarga besarku. Tak lebih, dan bahkan kurang sampai-sampai Monica sering kubuat marah karena waktuku untuknya sedikit.

“Heh, koq malah bengong, loe?” pertanyaan Gia mengaburkan pikiranku. “Mikirin apa, sih?”

“Ga. Just simple thoughts about life as what you’re telling.”

0 Responses to “The Journey, vol.8: The Conversation”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: