The Journey, vol.9: The Strange Coincidence

9.45, St.Hall
Gia sudah bersiap mengambil semua perlengkapannya meskipun kereta belum berhenti sepenuhnya di stasiun. Kedua temannya yang berada di dua kursi seberang pun juga sama halnya. Mereka sepertinya tak ingin kehilangan waktu sedikit pun.

Aku hanya diam memperhatikan. Toh, buat apa juga aku buru-buru? Kuperkirakan, aku baru akan mengurus segala sesuatu mengenai peluang di Bandung ini setelah makan siang. Karena janjiannya pun, memang dirancang jam 1 siang di kantor pihak yang akan kudatangi ini.

Tak lama, kereta pun berhenti sempurna di stasiun. Gia dan kedua temannya pun sama-sama sudah siap untuk turun. Mereka berdiri di depan kursi masing-masing, sambil bersiap segera menuju lorong depan gerbong, dan turun.

“Nice chat, Bil. Hope I’ll see you soon. Maybe on my next hike?” ucap Gia sesaat sebelum dia keluar dari gerbong, sementara aku masih saja terduduk.

“Yap. Mungkin. Anyway, thanks for the great conversation for almost three hours. Gue yakin, ini obrolan paling panjang karena sejauh Jakarta-Bandung!”


“Haha.. loe bisa aja.” Gia tertawa kecil. “Okay, I’d better go now. See you!”

Gia pun melangkah ke lorong depan gerbong, membawa perlengkapan hikingnya, dan diikuti oleh kedua temannya. Salah satu yang keluar belakangan sempat melirikku, dan menganggukkan kepalanya. Aku pun membalas dengan melakukan hal serupa.

Penumpang yang segerbong denganku mulai bergerak ke lorong depan untuk segera turun. Aku pun berdiri, menyandang tas ranselku di punggung, lalu menurunkan koper kecilku dari kompartemen kecil di atas kursi. Lalu aku duduk kembali. Menunggu antrian penumpang turun agak mereda.

Tak sampai beberapa menit, antrian pun mereda, dan aku pun bangkit dari dudukku dan bersiap turun dari gerbong. Sambil menuju pintu keluar, kuperhatikan peron Stasiun Hall. Dan, suasana udara Bandung yang berbeda pun kucium. Dan, setelah aku sepenuhnya keluar dari Bandung, aku pun menghirup dalam-dalam udara Bandung.

Sejuk. Cukup segar meski ada beberapa bau yang cukup mengganggu. Yang pasti ini berbeda dengan Jakarta.

Aku melangkah mencari pintu keluar stasiun. Perlahan, kuperhatikan kesibukan stasiun di pagi itu. Pedagang asongan, penumpang, kuli angkut, petugas, dan masih banyak lagi orang-orang berseliweran di dalam stasiun. Banyak memang, tapi teratur. Menarik.

Langkahku semakin mendekatkanku dengan pintu keluar. Seorang petugas yang menjaga pintu meminta bukti tiketku. Kuperlihatkan, dan kemudian dia mengambilnya untuk kemudian menyerahkannya kembali. Aku pun berjalan keluar dari stasiun, dan mataku langsung tertumbuk ke satu titik.

Seorang pria berdiri dengan bersandar pada sedan di belakangnya. Ia menatap ke arahku. Alisnya berkerut. Kumisnya tipis. Ia tampak menua sejak terakhir kali aku bertemu dengannya, tapi itu masih dia. Dengan sedikit guratan-guratan usia di beberapa sudut wajah.

Tanpa kusadari, aku berjalan mendekatinya. Dia pun semakin mengerutkan alisnya sambil tetap melihat ke arahku. Dan, sekitar 2 meter darinya aku pun berhenti.

“Abdul?” aku berkata.

“Billy?” dia bertanya balik.

Aku langsung tertawa lepas, dan begitu pula Abdul. Kami saling berjalan mendekat, serta kemudian bersalaman.

“Gimana kabar, Dul? Lagi ngapain di sini?” tanyaku.

“Kabar saya baik, Bil. Ini saya abis nganterin istri berangkat luar kota.” Jawab Abdul,  “Kamu sendiri ngapain?”

“Saya lagi ada perlu nih, sama salah satu perusahaan di sini. Biasa lah, dinas kantor.” Jawabku, “Eh Dul, saya ga salah denger tadi? Istri? Koq kamu ga pernah bilang kalo udah nikah? Ga ngundang-ngundang lagi.”

“Yah, aku juga waktu nikah pengen ngundang kamu, tapi saya ga tau alamat kamu. Abis, kamu pindah ke Jakarta, tapi ga ngasitau alamat. Gimana saya mau kirim, coba? Nomer hape pun ga tau!”

“Loh, emang Ayu ga ngasitau?”

“Ayu? ‘Kan dia sekarang di Jakarta juga! Kamu ga tau, ya?”

“Hah? Koq bisa? Dari kapan?”

“Ah, udah lah. Kalo ngobrol di sini, nanti panjang ga kelar-kelar. Ayo, kita cari tempat aja dulu, sekalian nostalgia jaman SMA dulu.” Ajak Abdul. “Kamu buru-buru, ga?”

Aku melirik arloji. 10.17.

“Ga kaya’nya sih. Saya ada janji setelah makan siang nanti di Dago atas.”

“Wah, yaudah. Kalo gitu kita cari tempat makan di daerah Dago atas aja, jadi nanti kamu sekalian bisa ke sana setelah makan. Gimana?”

“Ayo, Dul!”

Tanpa pikir panjang, aku langsung mengangguk. Kapan lagi aku bisa bernostalgia dengan salah satu teman dekatku di SMA dulu? Tapi aneh juga, kenapa bisa dalam satu hari, dalam satu perjalanan panjang, aku bisa bertemu dengan dua orang teman lamaku? Aneh.

0 Responses to “The Journey, vol.9: The Strange Coincidence”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: