Arsip untuk Juli, 2009

The Journey, vol.11: The Occurence

“Kamu ga sama dia lagi? Sejak kapan? Gimana ceritanya?” Abdul buru-buru menyelesaikan makanannya, sambil kemudian meminum jus strawberrynya.

Aku diam. Membereskan makananku yang tak habis. Kenikmatannya hilang seketika dengan hadirnya nama yang telah lama kulupakan itu.

“Bisa dibilang, hubungan saya sama dia ga bisa dilanjutin karena satu dan lain hal. Dan, kita memang sepakat buat ngakhirin hubungan itu.” aku menjawab secara diplomatis.

“Tapi ‘kan, kamu selalu bilang kalo kamu pengen dia jadi yang terakhir?”

“Iya. Tapi dia belum tentu mikir yang sama dengan sama. Dia belum tentu pengen saya jadi yang terakhir.”

“Tapi… tapi.. dulu kalian pas masih SMA, keliatannya serasi banget!”

Aku tersenyum. Mencoba memberikan kedok bahwa aku baik-baik saja, meski ingatan itu membuat luka lama di hatiku terbuka lagi. Perih. Menyakiti. Tapi demi sahabat lama seperti Abdul, tentunya aku tak boleh memperlihatkan rasa sakit itu.

Lanjutkan membaca ‘The Journey, vol.11: The Occurence’

Iklan

The Journey, vol.10: The Meatballs, The Noodle, and The Strawberry Juice

Abdul sepertinya sangat menguasai jalan-jalan Bandung, sehingga tak sampai 30 menit mobil yang dikendarainya sudah sampai di daerah Dago atas dari stasiun tadi. Ia menghentikan mobilnya di parkiran sebuah resto kecil yang bertuliskan “Badali, Bakso Sunda Asli”. Wah, sudah lama juga aku tak makan bakso Sunda asli.

“Ayo cari meja.” Ajak Abdul sambil duluan turun dari mobil. Aku pun mengikutinya keluar, dengan membawa tas backpack-ku, karena ada laptop di dalamnya. Sementara koper kubiarkan di bagasi mobil.

Abdul terlihat sudah dilayani oleh pelayan di depan, sepertinya sedang mendiskusikan letak meja. Dan tak lama pelayan itu pun mengangguk-angguk sambil tangannya menunjuk ke salah satu meja di deret agak dalam. Abdul pun membalikkan badannya, melihat ke arahku, dan menggerakkan tangannya seperti memanggil.

Aku yang masih berjalan pelan dari mobil pun mempercepat langkahku. Mengikuti Abdul yang sudah masuk ke dalam ruang resto tersebut, ke meja yang sedang ditunjukkan oleh pelayan resto.

“Silakan Pak, menunya. Jika sudah siap memesan, silakan panggil saya, Rani.” Ujar pelayan itu sambil menyerahkan dua set menu. Abdul sudah terlihat duduk ketika aku baru sampai di meja itu.

Tak lama, pelayan resto itu pun pergi. Dan, aku pun duduk di kursi seberang Abdul.

“Kamu mau makan apa, Bil?” tanya Abdul sambil membaca menu.

“Kaya’nya bakso urat mie yamin enak nih, Dul. Atau kamu ada saran laen?” jawabku sambil membaca menu juga.

“Hmm… boleh juga sih. Di sini baksonya enak-enak koq. Makanya saya bawa kamu ke sini. Trus minumnya?”

“Jus strawberry dong. Kan strawberry Bandung enak-enak.” Jawabku sambil menyimpan menu ke meja. Abdul melirik sekilas ke arahku.

“Ah, saya juga deh. Udah lama ga minum jus strawberry.”

Abdul pun mengangkat tangannya dan dengan gerakan sedikit melambai, seorang petugas menghampiri meja kami. Rani. Petugas yang tadi menunjukkan meja kepada kami.

“Sudah siap memesan, Pak?” tanya Rani sambil mengeluarkan notes kecil dan juga pensil.

“Ya. Saya pesen dua jus strawberry original, satu bakso urat mie yamin, sama satu bakso spesial mie kuah.” Jawab Abdul.

“Ada lagi, Pak?”

“Cukup segitu dulu, kaya’nya.”

Lanjutkan membaca ‘The Journey, vol.10: The Meatballs, The Noodle, and The Strawberry Juice’