The Journey, vol.11: The Occurence

“Kamu ga sama dia lagi? Sejak kapan? Gimana ceritanya?” Abdul buru-buru menyelesaikan makanannya, sambil kemudian meminum jus strawberrynya.

Aku diam. Membereskan makananku yang tak habis. Kenikmatannya hilang seketika dengan hadirnya nama yang telah lama kulupakan itu.

“Bisa dibilang, hubungan saya sama dia ga bisa dilanjutin karena satu dan lain hal. Dan, kita memang sepakat buat ngakhirin hubungan itu.” aku menjawab secara diplomatis.

“Tapi ‘kan, kamu selalu bilang kalo kamu pengen dia jadi yang terakhir?”

“Iya. Tapi dia belum tentu mikir yang sama dengan sama. Dia belum tentu pengen saya jadi yang terakhir.”

“Tapi… tapi.. dulu kalian pas masih SMA, keliatannya serasi banget!”

Aku tersenyum. Mencoba memberikan kedok bahwa aku baik-baik saja, meski ingatan itu membuat luka lama di hatiku terbuka lagi. Perih. Menyakiti. Tapi demi sahabat lama seperti Abdul, tentunya aku tak boleh memperlihatkan rasa sakit itu.

“Itu ‘kan cuman di SMA, Dul. Beda sama setelah SMA. Lagipula, kejadiannya udah cukup lama terjadi koq. Hampir lima tahun yang lalu.” Aku menjawab.

Wajah Abdul terlihat terkejut. Ia sepertinya tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.

Lalu hening. Tak ada yang berbicara. Abdul sepertinya merasa bersalah sudah bertanya karena bisa jadi ia merasa aku cukup tersakiti dengan keadaan itu, tapi itu memang haknya. Lagipula, sudah seharusnya aku menebak apa yang akan terjadi ketika aku bertemu teman lama yang sudah lama tak bersua.

“Tenang, Dul. Saya udah ga begitu ngerasa hal yang sama seperti yang saya rasa lima tahun yang lalu itu. Semuanya udah memudar, dan bahkan hampir ilang.” Aku mencoba mencairkan suasana.

“Sori ya, Bil. Saya ga bermaksud buat bikin kamu jadi nginget-nginget lagi luka lama.”

“Ga masalah. Bahkan seharusnya saya yang ngasitau kamu duluan.” Aku tersenyum nyengir. “Lagipula, seharusnya emang kamu tau. Kan kita best friend.”

Abdul tersenyum. Tangannya menepuk pundakku.

“Ya. Best friend.” Ujarnya.

Aku menyedot jus strawberryku yang masih tersisa. Lalu menatap Abdul.

“Ceritanya simpel aja sih, Dul. Ga kaya’ cerita kamu yang mencengangkan dan juga ajaib. Cerita saya adalah cerita yang biasa dialamin sama orang banyak. Cerita hubungan yang akhirnya kandas karena hubungan jarak jauh yang ga berhasil.

“Tau sendiri ‘kan, dulu saya langsung pindah ke Jakarta setelah lulus SMA. Sementara itu, Salma ga berhasil buat ngeyakinin orangtuanya buat kuliah di Jakarta, dan akhirnya tetep kuliah di Tasik. Beberapa bulan pertama, meski berat hubungan tetep bisa bertahan. Tapi, lewat enam bulan dan juga hitungan tahun, hubungan itu mulai kehilangan arti.

“Semuanya bermula setelah hampir setahun saya di Jakarta, dan kemudian pulang ke Tasik. Salma berubah total dari cewek seperti yang kita kenal di SMA dulu, jadi lebih beda. Lebih cakep sih emang, tapi yah, beda aja. Ada sesuatu yang bikin saya ga ngerasa sreg. Dan, mungkin dia juga ngerasa hal yang sama di saya. Dia juga ngerasa saya ga se-sreg pas SMA dulu.”

Abdul menyimak ceritaku dengan seksama. Ia tak berusaha sedikitpun untuk memotong.

“Dan kemudian, dia pun ngaku kalo dia udah mulai ngebuka hatinya buat orang laen. Tapi komitmen masih dia coba pertahanin, Dul, sampe akhirnya dia ga bisa jadian sama orang laen dan janji bakal tetep sama saya, asal saya juga bener di Jakarta dan ga ngedeketin orang laen.

“Janji itu saya jalanin. Saya pun ga deket sama orang laen. Tapi kemudian, di taun kedua pas saya pulang lagi ke Tasik, Salma makin berubah. Dia ternyata udah mulai lupa sama saya, dan juga lebih milih orang lain. Saya ngerti sama keadaan itu, dan berusaha lebih memosisikan diri saya di posisi dia. Tapi meski begitu, tetep aja perasaan sakit pasti ada.

“Hubungan yang dijalanin meski masih dalam rangka komitmen dan juga janji, makin lama makin hambar. Tapi meski begitu saya masih coba buat mikir positif dan juga ngejalanin konsepsi bersama. Ngebangun cita-cita.

“Tapi semuanya ternyata sia-sia. Karena di tahun ketiga, saya justru ditinggal secara nyata oleh Salma. Dia lebih milih buat ga lagi ngelanjutin hubungan ini. Dan, saya yang juga galau dan ga bisa minta lebih banyak lagi, akhirnya juga setuju kalo hubungan itu lebih baik diakhiri. Dan begitulah sampe akhirnya saya pun ga lagi kontak-kontakan sama dia. Berusaha buat ngelupain dia, karena rasa sakit yang timbul sakit banget setelah hubungan itu berakhir.”

Tangan Abdul memegang pundakku.

“Tenang, fren. Cewek masih banyak koq. Udahlah, ga usah diterusin lagi cerita soal Salma itu.” ucap Abdul.

Aku diam. Rasanya aku ingin melanjutkan cerita itu. Setidaknya agar ada seseorang dari masa laluku yang mengetahui secara lengkap. Tapi ah, buat apa juga?

“Oke, Dul.”

“Dan sekarang kamu udah ada gantinya? Pastinya lebih baik kan?”

Aku tersenyum.

“Ada. Namanya Monica. Dia kerja di Jakarta juga.”

“Udah berapa lama?” tanya Abdul lagi.

“Yah, hampir empat tahun kali ya.”

“Wah, cepet nikah atuh. Kan biar lebih barokah.” Abdul memberikan saran sambil kemudian tersenyum.

“Iya, Dul. Saya juga pengennya begitu. Doain aja supaya dilancarin segala urusannya.”

“Amin..” Abdul mengamini doaku. Mudah-mudahan, doa ini dikabulkan oleh Allah SWT.

Aku melirik arloji. 12.37. Beberapa saat lagi, waktu makan siang akan habis. Sebaiknya aku bersiap untuk meeting.

“Kenapa, Bil? Udah waktunya buat ke tempat meeting, ya?” tanya Abdul.

“Belum sih. Tapi waktunya udah semakin deket, nih. Kantor Bandung Publishing Services jauh ga, ya dari sini?”

Abdul tersenyum. Ia kemudian melihat ke arah jalan raya. Ke arah seberang. Aku mengikutinya pandangannya.

“Itu gedung yang di seberang agak ke sebelah kanan. Yang dindingnya warna biru kuning.” Jawab Abdul.

Dan, sekilas dari kejauhan dapat kubaca papan nama perusahaan di bagian atas dari pintu masuk. Bandung Publishing Services.

“Baguslah. Jadi saya lebih gampang sampenya. Thanks ya Dul.” Kataku.

“Sip!” jawab Abdul.

0 Responses to “The Journey, vol.11: The Occurence”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: