The Journey, vol.12: The Thought

Meeting itu berjalan menjemukan. Tak ada hal yang begitu menarik, selain rencana strategis yang memang sudah sejak pertama kali aku akan berangkat, sudah kuketahui. Memang, aku seharusnya memberikan beberapa masukan. Tapi, ada beberapa hal yang membuatku tak melakukannya.

2 jam. Lalu kemudian coffee break. Ya, bagus. Setidaknya aku punya sedikit waktu untuk mengusir bebal di kepala ini karena sejak tadi disuguhi oleh kebosanan.

Aku beranjak ke ruang depan gedung. Melihat ke arah jalanan. Menikmati hilir-mudik angkot Bandung dan juga sekian banyak transportasi yang digunakan oleh setiap manusia. Dan seketika, aku teringat kampung halaman.

Bukan hiruk-pikuk yang kuingat, tapi ketenangan dan juga jarangnya kemacetan yang terjadi. Menikmati jalanan pagi dan sore hari dengan berjalan kaki. Biar seorang diri, tapi setiap langkah yang kuayunkan memiliki cerita.

Apa mungkin, jika selepas dari Bandung ini aku langsung pergi ke kampung halamanku? Sekadar melepas kepenatan dari deadline, sekaligus juga sebuah jeda di tengah-tengah kesibukan? Tapi, apa mungkin?

Sudah cukup lama sejak terakhir kali aku mengunjungi Tasikmalaya. Dan, tak ada salahnya sepertinya mengajukan cuti mendadak seperti ini kepada Paulo. Tapi, bukan Paulo yang aku cemaskan.

Kutekan speed dial di ponselku. Tak lama, terdengar nada sambung ponsel yang kutuju.

“Iya Sayang, ada apa?” jawab Monica segera di ujung telepon. “Kangen, ya? Aku juga kangen kamu..”

Aku tersenyum. Entah kenapa hati ini selalu senang mendengar kata-kata manis seperti itu darinya.

“Iya, aku kangen banget deh sama kamu. Rasanya, pengen kamu ada di sini. Nemenin aku di Bandung. Nanti kita shopping gila lagi..” jawabku.

“Hihi.. kamu bisa-bisa aja.”

“Emang bener ‘kan, kamu shopaholic, Say..”

“Iya, Honey.”

“Lagi apa? Aku lagi break meeting nih. Suntuk banget.” Tanyaku.

“Biasa, lagi check-recheck data. Bentar lagi pengen coffeebreak sih, tapi yah.. nanggung. Pengen cepet kelarin, biar cepet pulang juga. Aku pengen coba kunci yang kamu kasih kemaren.”

“Lho, jangan sampe tempatku acak-acakan ya..”

“Engga.. ga acak-acakan, cuman ditata ulang ala Monica.” Jawabnya manja.

Dan seketika di kepalaku langsung terbayang tampilan apartemenku yang menjadi super rapi, dengan beberapa pernak-pernik feminin di sana-sini. Warnanya pun berubah dari yang sekarang berwarna dominan biru muda tanpa wallpaper, menjadi pink, kuning terang, serta wallpaper bercorak-corak.

“Jangan ekstrim-ekstrim, ya. Jangan sampe pas aku pulang, aku malah nyangka masuk apartemen yang salah lagi..”

“Hihi.. biarin. Tapi kalo misal pas buka pintu ada aku, masa’ kamu masih mikir salah masuk apartemen?” godanya.

“Hehe.. ya ga lah. Kalo itu, aku justru yakin banget kalo aku udah masuk apartemen yang bener.” Jawabku cepat, berusaha menghindari godaan berikutnya.

“Okay..okay.. kamu pulang kapan, sih? Besok, kan?”

“Di jadwal sih, cuman dua hari sampe besok, dan malemnya ada opsi buat nginep lagi. Tapi…” aku memikirkan kata-kata yang tepat dan halus untuk Monica.

“Ada apa? Jadwalnya berubah?”

“Ga juga sih, jadwal di Bandung tetep sama. Tapi, entah kenapa aku jadi kepikiran buat pulang kampung deh, ke Tasik.”

“…..” tak ada suara sama sekali di ujung hubungan telepon. Monica pastinya tak menyangka aku berkata demikian setelah sebelumnya aku merespon godaannya dengan –cukup- baik.

“Sayang, aku kan cuman kepikiran doang. Bisa jadi malah aku besok berubah lagi pengen cepet pulang ke Jakarta, ketemu kamu.” Aku langsung menambahkan.

“Suka-suka kamu, deh!” seru Monica cepat, lalu sambungan telepon terputus.

Aku langsung bergegas menelepon kembali, tapi nada sambung yang terdengar hanyalah sibuk, dan kemudian tulalit. Monica jelas-jelas marah dengan ucapanku. Tapi, apa harus seperti itu? Apa salahnya aku pulang ke kampung halamanku?

1 Response to “The Journey, vol.12: The Thought”



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: