The Journey, vol.13: The Offer

Sisa hari kuhabiskan dengan pembahasan yang menjemukan di meeting yang sama setelah break. Dan, meski semua materinya aku sudah tahu, tapi aku tak lagi diam saja. Aku memberikan beberapa masukan, dan juga usulan ke para peserta rapat.

Beberapa usulanku sepertinya mengena. Bukan karena aku utusan dari Jakarta, tapi lebih kepada usulanku belum terpikir oleh mereka. Dan yah, aku berharap usulan-usulan itu memang bisa berguna dan kemudian dijalankan sehingga kantor Bandung ini menjadi lebih maju dibanding sebelumnya. Terutama strategi visualisasi kreatif yang nantinya akan dikembangkan di sini.

Sikapku yang tak lagi diam dan juga lontaran-lontaran usul tersebut tak lain karena aku mencoba untuk tetap berpikir positif, fokus, dan profesional setelah tak lagi bisa menghubungi Monica. Oke, dia marah. Tapi bukan lantas aku pun tak bisa bekerja lagi. Dan, pulang kampung itu masih jadi pilihan yang baik sepertinya.

Jam lima lewat tiga puluh menit, pembahasan rapat sudah mulai mengerucut dan hanya ide-ide yang menajamkan strategi saja yang terlontar. Para peserta rapat pun sepertinya sudah cukup puas dengan perkembangan yang terjadi. Tak tampak wajah-wajah yang ingin segera pulang dari kantor. Beda sekali ketika aku mengikuti rapat di Jakarta.

Dan kemudian, dengan kesimpulan singkat mengenai meeting hari itu oleh Kepala R&D, meeting pun dinyatakan selesai. Semua peserta pun membereskan kertas-kertas, serta data-data yang berserakan di meja rapat. Aku pun termasuk salah satunya, karena beberapa kertas data penting kubawa dari Jakarta.

Satu persatu peserta rapat pun keluar dari ruang rapat dan tinggal menyisakan aku, Heru – Kepala R&D, Martin – yang kukenali sebagai salah satu staf R&D pula, serta Desi – notulen rapat tersebut. Sambil masih membereskan beberapa makalah, kuperhatikan Heru mendekatiku. Sementara Martin bercakap-cakap dengan Desi.

“Aku ga pernah nyangka kantor Jakarta bakal ngirim orang buat hal sepele begini. Aku pikir, yang dateng bakal sekadar staf biasa yang tugasnya cuman jadi wakil doang. Ga taunya, ide-ide kamu tadi dahsyat!” ucapnya sambil menepuk bahu.

“Hanya melaksanakan tugas, Pak.” Ujarku merendah. Meski, aku sendiri juga heran dari mana ide-ide yang kulontarkan di rapat tadi berasal.

“Jangan merendah begitu, Bil. Aku tau bedanya orang cerdas dengan ide-ide brilian, dengan orang yang memang harus berkata seperti yang sudah ditugaskan.” Jawab Heru. “By the way, jabatan kamu pasti tinggi ‘kan di sana? Asisten kepala, mungkin?”

Aku tersenyum.

“Saya cuman staf biasa, Pak. Asisten kepala ada lagi yang megang. Ada sekitar dua-tiga orang deh. Saya sih, kacung aja.” Jawabku.

“Ah, ga mungkin! Pasti kamu asisten kepala!” sergah Heru. “Biar kutelepon bosmu. Siapa namanya? Paulo, ‘kan?”

Tanpa bisa kucegah, Heru mengeluarkan ponsel dari tempat di pinggangnya, dan menekan beberapa tombol. Kemudian, ia menunggu nada sambungnya. Aku pun berusaha untuk tetap tenang, tak memikirkan apa yang akan dibicarakan olehnya dengan Paulo, dan membereskan semua dokumen. Jangan sampai ada yang tertinggal, karena aku masih harus membaca ulang semuanya malam ini, dan besok pagi mengirimkan laporan ke Jakarta.

“Hai, Paulo! Ya, ini aku Heru! Apa kabar kau?” ucap Heru keras-keras di dekatku.

“Iya, meetingnya oke. Lancar-lancar aja. Seru malahan! Aku seneng banget sama orang yang kamu kirim ini. Ide-idenya oke punya! Aku bener-bener ga nyangka kamu kirim orang sehebat dia. Top punya, lah!”

Hatiku berdesir. Pujian Heru di telepon ke Paulo tersebut kuharapkan tulus adanya, dan syukur-syukur menambah besaran perkembangan peluang karirku.

“Oiya, aku mau tanya satu hal sama kamu. Billy ini, dia bilang masih jadi staf di kantormu. Benar begitu? Ah, masa’ sih? Kamu menyia-nyiakan dia hanya menjadi staf saja? Lalu, apa kerjaan asistenmu?”

Raut muka Heru tampak tegang. Ia sepertinya kurang senang dengan jawaban yang Paulo berikan. Aku mulai bertanya-tanya, siapa sebenarnya Heru ini? Apa posisi yang sebenarnya ia pegang? Kenapa ia sepertinya lebih berkuasa dibanding Paulo?

“Kalo aku jadi kamu, Paulo, aku lebih baik punya satu asisten yang cerdas dibanding dua atau tiga dan lebih asisten yang kerjanya hanya satu bidang saja. Ga mutu lah itu. Karena pastinya satu asisten tersebut lebih bisa ngehandle staf-staf dengan cekatan, dan juga selektif dibanding dua-tiga kepala yang bisa jadi malah mecah tim staf.”

Kata-kata Heru tersebut, entah kenapa terasa ada benarnya di hatiku yang terdalam.

“Ya sudah, kalo di sana ga tersedia posisi asisten kepala, biar dia jadi asistenku di sini. Gimana? Kau setuju, ga? Kabari aku secepetnya, ya! Sebelum besok pagi!”

Lalu Heru menutup teleponnya. Aku dapat membayangkan reaksi Paulo di ujung sana. Raut mukanya pasti jengkel sekali, karena ia sangat tidak suka ada yang memutus hubungan telepon lebih dulu. Tapi, bayangan tersebut sirna ketika Heru kemudian menatapku. Dan, kata-kata menjadi asistennya terngiang-ngiang.

“Jadi, tertarik?” tanya Heru ringan.

“Apanya?” aku balik bertanya. Terkejut sekaligus mencoba mencerna setiap momen yang baru saja terjadi.

“Yah, kalau memang kau di Jakarta tak terlalu dipakai, lebih baik jadi asistenku saja di sini. Soal salary, tenang saja. Nanti pake standar company kita. Kalau kau mau, standar Jakarta pun bisa!”

Hmm.. pilihan katanya terlalu vulgar. Yah, mungkin memang itulah karakternya. Tapi, aku harus menjawab apa?

“Bisa saya pikir-pikir dulu, Pak?”

“Bisa. Jelas bisa, lah. Keputusan itu ga harus buru-buru koq, tapi lebih cepat lebih baik!” sambar Heru sambil langsung tertawa keras. “Hahahaha…”

Heru pun kemudian menepuk punggungku.

“Sampe ketemu meeting besok, ya. And, you’d better think about the offer tonight.”

Aku tersenyum. Terpaksa. Kubiarkan saja Heru menikmati kebingunganku. Toh, tawarannya memang terlalu bagus jika kubiarkan lewat begitu saja. Tapi.. lagi-lagi tapi, banyak sekali hal-hal yang harus kujadikan pertimbangan.

Heru pun berlalu keluar dari ruangan meeting. Martin masih bersama Desi, melanjutkan pembahasan yang aku tak tahu. Aku pun melanjutkan membereskan barang-barangku, memastikan bahwa tak ada yang tertinggal, mengecek bahwa semuanya telah masuk ke tas kerjaku.

“Dia ga pernah maen-maen kalo nawarin sesuatu lho.” Sahut Martin memecah kebisuan.

Aku langsung menatapnya. Ia kini sudah berdiri balik menatapku sambil memegang kertas kerjanya. Desi tampak membereskan barang-barangnya.

“Aku tau itu, Pak Bil. Ga usah jauh-jauh, contohnya ya aku.” Ujar Desi sambil masih membereskan barang-barangnya. “Dulu, aku ‘kan cuma sekretaris biasa aja di sebuah kantor client. Tapi kemudian, dia nawarin buat pindah ke sini. Dan, begitu aku bilang mau, dia langsung aja minta sama bosku waktu itu.”

“Wow, bos yang pejuang banget ya?” kataku sambil bercanda.

“Makanya tadi aku bilang, tawarannya itu ga maen-maen karena dia pasti mau berusaha keras buat ngedapetin apa yang udah disepakatin sama-sama.” jawab Martin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: