#SketsaFiksi: Korea-004

Aku takkan marah jika kelak kamu lupakan aku selama di sana, dan justru lebih mengingat yang lain.

Dulu aku tak begitu mengerti apa maksud dari perkataanmu itu. Iya. Aku sungguh tak mengerti. Bagaimana bisa aku tak mengingatmu jika engkaulah yang pertama kali terpikirkan olehku setiap saat aku rindu rumah? Setiap kali aku rindu hari-hari dulu, ataupun memimpikan hari nanti?

Berhari-hari aku mencoba mencaritahu apa arti dari perkataanmu sebenarnya. Siapakah yang lain yang kau maksudkan. Apakah itu artinya kamu mempersilakan aku untuk mencari yang lain? Apakah itu artinya kamu memperbolehkan aku untuk memiliki yang lain? Apa?

Sambil dihempas angin dingin belahan bumi utara pada siang hari yang bercahaya, akhirnya aku mengerti maksudmu. Aku mengerti bahwa sebenarnya perkataanmu bukanlah sebuah perkataan, melainkan sebuah pesan. Sebuah pengingat, perintah dalam bentuk halus.

Betapa agar aku tetap mengingat Sang Pencipta dalam setiap langkahku. Mewujudkan mimpi. Melaksanakan tugas untuk hari nanti.

Seoul Central Masjid, Itaewon, Seoul

Seoul Central Masjid, Itaewon, Seoul



%d blogger menyukai ini: