Posts Tagged 'Burung Kertas'

#21

Beberapa hari kemudian, Festival Hanami yang terkenal itu dimulai. Sakura pun sudah bermekaran di sekitar Jepang. Indah sekali. Belum pernah aku merasa sebahagia ini dengan ditemani kehadiran bunga Sakura. Bagaimana tidak? Pernikahanku akan segera berlangsung!
Jadi, ceritanya berlanjut dari hari itu. Hari saat Pram melamarku. Ternyata, kejutan lain yang ia maksud adalah kedatangan keluargaku. Terutama, Bunda. Aku senang sekali. Semua itu berkat Pram.
Ternyata Pram sudah merencanakan semuanya. Ia memang sudah akan melamarku setibanya ia di Jepang. Tapi, kapasitasnya sebagai insinyur undangan untuk presentasi beasiswa S2-nya lebih ia utamakan. Dan gilanya lagi, ternyata semua anggota tim yang berangkat dengannya – terutama Samiaji, mendukung dan membantunya! Pantas saja, ia bicara begitu misterius tentang tugas-tugas Pram yang belum selesai dan terlaksana.
Samiaji sempat khawatir ketika terjadi kecelakaan. Mereka tak menduga jika peragaan mekatronika-nya Pram, akan berakhir dengan kecelakaan, dan Pram menjadi koma. Tapi, mengetahui aku menjagai dan menunggui Pram, membuatnya tenang dan sadar jika aku memang pantas untuk Pram. Dan, ia berharap Pram cepat sadar. Karena, kalau Pram nggak sadar juga, mana bisa seperti hari ini!
KBRI Tokyo belum pernah seramai siang itu sejak dibuka oleh Presiden Soekarno. Kami semua berkumpul di halaman belakang. Di mana segala persiapan pernikahan sudah tertata rapi, dan tak lupa dihiasi Sakura yang bermekaran sebagai latarnya.
Bunda berada di barisan hadirin yang mengikuti prosesi dengan khidmat. Tiap kali aku menoleh, Bunda tersenyum sambil meneteskan air mata. Bahagiakah ia?
Hikaru, Yamada, Aoshi, dan juga beberapa teman serta dosen kuliahku juga berada di pernikahanku. Mereka semua memberiku selamat, dan juga semangat. Apalagi kalau bukan skripsi! Aku ‘kan, belum nyusun skripsi dan lulus! Tapi, udah nikah duluan! Hehe..
Pram terlihat gagah sekali hari itu. Ia mengenakan setelan jas yang sengaja ia bawa untuk pernikahan ini. Gila! Semangat banget! Dan, tentu saja aku. Bunda bilang, aku tak ubahnya bidadari yang sudah beranjak dewasa dengan gaun pengantin putih.
Tak lama, ijab kabul selesai. Tak perlu aku ceritakan secara detail. Buat apa? Pastinya udah bisa ditebak, ‘kan? Aku dan Pram kemudian bertukar cincin. Senyum tak pernah lepas dari wajah kami. Geli. Kucium tangan Pram hati-hati. Akhirnya! Pram dan aku menikah juga! Kami sudah resmi suami-istri!
Setelah itu, acaranya adalah foto bersama, makan bersama, dan perayaan. Tentunya, tak lama-lama karena KBRI bukanlah tempat pesta. Tapi, tetap saja memberikan kesan yang mendalam. Terutama aku. Karena hari ini adalah sebuah hari yang sangat indah. Dan, kuharap kebahagiaan hari ini takkan pernah berakhir.

Larut malam, aku dan Pram berdiam di kamar. Rasa lelah begitu terasa, tapi kami tak kunjung terlelap. Kusimpan kepalaku di lengan Pram yang kokoh.
“Pram.”
“Hmm?”
“Aku nggak nyangka, kalo bakalan married sebelum wisuda. Apalagi, married sebelum sidang buat skripsi!”
“Terus?”
“Tapi aku seneng banget hari ini. Aku seneng kamu ada di sampingku. Bersama aku. Memiliki aku.”
“Bener, nih?”
“Ya.”
Diam. Kami menatap langit-langit.
“Aku juga nggak nyangka bakalan married sama kamu.”
“Lho?”
“Kamu ‘kan tau, kamu pergi ke Jepang. Sementara, aku di Jakarta, Indonesia. Meski kita sama-sama kuliah, tapi pikiranku nggak tenang!”
“Kok gitu?”
“Siapa yang tau apa yang kita masing-masing lakuin. Siapa yang tau, apa kita masih bisa saling nginget?”
Diam. Aku hanya bisa mendengarkan.
“Dan, aku sayang banget sama kamu, ‘Ta. Aku nggak mau kehilangan kamu! Jujur, ya…Sehabis nganter kamu ke bandara waktu itu, aku pergi ke Puncak. Ngerenung. Sendirian lagi! Pokoknya, mirip orang kurang waras!”
“O…Sayang…Kacian, deh ih. Sedih, ya?”
Kugoda Pram. Ia tersenyum.
“Makanya, aku belajar bener-bener biar bisa ke Jepang, lewat beasiswa S2 dari pemerintah Jepang! Dan, aku dapet deh!”
“Lho, bukannya kamu jadi cadangan?”
Pram tersenyum.
“He-he-he. Aku boong. Aku nomer satunya.”
“Trus, tawaran ke MIT itu? Kamu juga yang dapet?”
“Yup! Tapi, aku kasih ke orang laen aja. Aku lebih milih ke Jepang. Kan, biar bisa ketemu kamu!”
“Ih, boongin aku!”
Kucubit Pram. Kugelitik ia.
“Duh, jangan ngelitikin aku, dong! Geli! Lagian, aku kan baru beberapa minggu ini baru keluar dari rumah sakit. Masa, aku harus balik lagi?”
“Abis…”
Kini, kami berhadapan. Saling menatap.
“’Ta…”
“Apa?”
“Boleh, aku panggil kamu, Ghita-chan?”
Gemas. Aku coba mencubitnya lagi. Menggelitiknya. Ia menghindar. Dan membalas.
Malam semakin larut. Tapi, aku dan Pram justru tak bisa tidur. Kami sibuk bercanda, dan terus saling mengganggu. Maklum! Pasutri baru!

—Bersambung… (?)—

Iklan

#20

Deburan ombak menyapa pantai. Sepi. Damai. Aku duduk sendiri. Angin laut menyibakkan rambutku.
Aku menunggu. Menunggu siapa?
Kurasakan, seseorang mendekat. Aku ingin menoleh, tapi aku tak bisa. Dalam hati, aku bertanya-tanya. Siapa dia?
Rambutku seakan-akan dibelai. Lembut sekali. Hanya satu orang yang bisa membelaiku lembut seperti itu.
“Pram?”
Orang itu duduk di sebelahku. Aku menoleh. Dia tersenyum. Pram.
“Ghita, terima kasih, ya.”
“Untuk apa?”
Pram membuka genggaman tangannya. Sesosok burung kertas berada di sana.
“Ini….”
“Ya. Ini burung kertas. Sama seperti yang pernah aku kasih sama kamu.”
“Berarti-“
Pram berdiri. Ia tersenyum cemerlang sekali.
“Sekarang, bangunlah.”
“Apa maksudmu?”
“Bangun, Ghita. Bangunlah.”
Aku tak mengerti. Kucoba berdiri, tapi entah kenapa ragaku tak kukuasai.
“Bangun, Ghita. Bangunlah.”
Aku mencoba berdiri lagi, tapi tak bisa. Ada apa ini?
Tak lama, semuanya hilang. Tak ada lagi yang berada di sekitarku. Hanya gelap. Pekat. Sendiri. Dan kata-kata Pram yang terus terngiang.
“Bangun, Ghita. Bangunlah.”

“Bangun, Ghita. Bangunlah.”
Tubuhku diguncang pelan. Gelap. Kubuka mata. Aku terlelap!
Buram. Kuusap-usap mataku. Seseorang tersenyum di depanku. Perlahan tapi pasti, ia membelai rambutku.
“Pram! Kau sudah sadar!”
Aku melompat. Ingin segera kupeluk Pram. Hatiku sangat senang. Ingin rasanya aku memekik karena gembira. Belum pernah aku merasa segembira ini melihat Pram sadar.
“Wo…wo…Tahan, Non. Peluknya pelan-pelan aja, ya. Dadaku masih sakit, nih.”
Aku tak peduli. Segera saja aku memeluknya. Erat.
“Uhuk!”
“Sori.”
Aku duduk kembali. Senyum menghiasi wajahku. Senang. Gembira. Kugenggam erat tangan Pram. Hangat. Tak lagi dingin dan kaku.
“Histeris banget!”
Aku tersenyum. Malu.
“Muka kamu jadi merah, ih! Lucu!”
Pram mencoba tertawa. Tapi, suara yang keluar justru seperti terkekeh. Lebih mirip kakek-kakek! Aku pun tertawa juga.
“Kalo nggak histeris, harus gimana dong?”
Pram tersenyum.
“Kok kamu udah sadar? Dari kapan?”
“Jadi, aku nggak boleh sadar, nih, ceritanya?”
“Ih, bukan gitu. Tapi-“
“Tapi apa?”
Aku diam. Tak bisa menjawab.
“Hm…Sadarnya baru aja, kok. Tadi.”
Aku diam. Senang.
“Nggak tau kenapa, tapi pas aku nggak sadar tadi, kayaknya ada yang nyuruh aku buat bangun, gitu. Siapa, ya? Sampe nangis-nangis segala, deh.”
Pram tersenyum nakal. Ia menggodaku.
“Ih, sorry ya! Ngapain juga aku nangis-nangis segala?”
“Tuh, ‘kan. Berarti bener, kamu yang tadi ngomong itu…”
Diam. Aku kena lagi!
“Udah, ah. Aku panggil dokter dulu!”
“Lho, buat apa manggil dokter? Ngapain?”
“Yee, emangnya kamu nggak mau diperiksa? Siapa tau, ada yang nggak beres sama kamu!”
“Tapi-“
“Udah, deh. Percaya, ya!”
Kucoba melepas genggaman Pram dengan berdiri. Tapi, Pram tidak melepaskan tanganku. Aku diam. Menunggu.
“Ada apa?”
Pram diam. Hatiku berdebar. Situasi seperti ini yang selalu kuhindari! Kenapa juga sekarang begitu? Apa Pram akan berbicara sesuatu?
“Bisa kamu buka jendela. Sebenernya, udah pagi apa belum, sih?”
Aku tersenyum. Senang. Lucu. Masih saja Pram bisa bercanda. Emang iya?
“Ada apa? Kok malah ketawa?”
“Nggak. Aku cuma lucu aja. Aku kira, tadinya kamu mau ngomong appaaaa…. gitu, sama aku. Eh, nggak taunya cuma nyuruh buka jendela doang!”
“Oh.”
Pram diam. Tapi, senyuman kecil berada di wajahnya.
“Ya udah! Cepetan sana!”
Aku mengangguk. Tersenyum.

Taman yang berada di dalam wilayah rumah sakit, tidak begitu ramai siang itu. Damai. Entah, apa karena memang sedang sepi, atau apa. Yang pasti, tak ada yang menggangguku dan Pram. Kudorong kursi rodanya perlahan. Di sebuah bangku, aku berhenti.
Sengaja kubawa Pram kemari. Aku ingin menepati janjiku tentang memperlihatkan bunga Sakura padanya. Lagipula, dokter yang memeriksanya kemarin, justru menyarankan untuk membawa Pram keluar dari kamar untuk penyegaran dan perubahan suasana.
“Kamu liat pohon itu? Itu pohon Sakura, namanya. Bunganya bentar lagi bakalan mekar. Dan, pas itu, Festival Hanami bakalan digelar di Jepang sini.”
“Kapan?”
“Sebentar lagi.”
“Hanami. Namanya aneh banget!”
“Ya. Hanami asalnya dari dua kata. Hana-, yang artinya bunga. Dan, -mi yang artinya melihat.”
“Jadi, arti gamblangnya itu, melihat bunga, gitu?”
Aku mengangguk.
“Wah, kamu jadi tau segala macem soal Jepang, ya setelah tinggal di sini?”
“He..he.. Bisa aja, kamu!”
“Yah, coba di Jakarta ada seperti ini. Kan bagus.”
“Ye…Mana bisa bunga Sakura idup di Jakarta! Kan, di sana panas! Bunga Sakura itu cocoknya cuma di udara sedang. Buktinya, di Washington bisa idup. Soalnya, iklimnya sama!”
Pram manggut-manggut.
Hening. Kami saling menatap. Angin musim semi berdesir.
“Sebenernya, aku ada alesan laen buat dateng ke sini.”
“Apa, tuh? Aku boleh tahu?”
“Aku ngejemput kamu.”
Aku tersentak. Diam. Jawabannya begitu menohok. Terlalu jujur! Apa benar?
“Aku nggak ngerti. Maksud kamu sebenernya apa, sih?”
Pram merogoh ke dalam selimut di pangkuannya. Ia lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah. Apa isinya? Kapan ia menyembunyikannya? Jangan-jangan…
Perlahan, Pram membukanya.
“Cincin?”
“Ya.”
“Untuk apa?”
Pram mengambil tanganku. Ia menatapku dalam. Sedalam samudra biru yang ingin kuselami. Tatapan yang pernah membuatku luluh dan tenggelam dalam misteri sesosok Pram.
“Aku ingin kamu menikahi aku.”
Apa?
“Maaf, Pram. Tadi, kamu nyebut menikah? Aku nggak salah denger, tuh?”
“Nggak. Kamu nggak salah denger. Aku emang nyebut kata itu. Menikah.”
Diam. Gelisah. Kutarik tanganku. Rona muka Pram langsung berubah.
“Ada apa? Emangnya, ada orang lain?”
“Bukannya kamu bilang, kalo kamu lagi deket sama seseorang?”
“Ya. Bener. Dan, seseorang itu kamu.”
“Aku?”
Pram mengangguk.
“Aku?”
Pram mengangguk lagi.
“Lalu, ceritamu itu-“
“Ya. Aku udah ngomong sama Bunda, kok.”
“Tapi, kok Bunda nggak ngasitau aku?”
“Sengaja. Aku yang minta. Biar jadi kejutan.”
Sekelebat, aku teringat dengan percakapan malam itu. Betapa Bunda bisa menyebut Pram seorang insinyur padahal aku tak menyebutkannya. Pantas saja!
“Tapi-“
“Buktinya, sekarang kamu terkejut, ‘kan?”
Aku diam. Tak kujawab. Bimbang.
“Jadi?”
Aku bingung. Pusing! Haruskah kuterima lamaran Pram begitu saja? Aku dan dia, ‘kan sudah lama berpisah! Kenapa jadinya seperti ini? Kenapa begitu tiba-tiba? Apa ini kebetulan? Atau, inilah yang ditandai oleh misteriusnya burung kertas yang kutemukan dan kemudian hilang tiba-tiba itu?
“Ada apa lagi?”
“Enggak. Hanya saja, aku ngerasa kita ‘kan udah lama nggak ketemu. Yah, sekitar tiga taun lebih, deh. Pasti, banyak banget yang berubah.”
“Jadi, kamu butuh waktu?”
Bimbang. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Haruskah ‘ya’?
“Bukan begitu, tapi-“
Tanpa kata, Pram meraih tanganku lagi. Lembut. Hangat. Tenang.
“Aku percaya sama kamu. Bahkan sebenernya, aku udah mau ngomong gini sejak dulu. Sejak sebelum kamu berangkat. Tapi, dari berbagai perhitungan, akhirnya aku tunda. Sampe sekarang.”
Aku diam. Hatiku berdebar. Rasa apa ini? Cinta-kah? Benarkah Pram juga mencintaiku? Tuluskah?
Hening. Lama.
“Baiklah. Aku mau.”
Pipiku terasa hangat. Mungkin merah dan merona. Aku malu!
“YES!”
Pram berusaha bangkit, walau lemah. Aku membantunya. Kami berpelukan.
“Terima kasih, ‘Ta.”
“Sama-sama.”
“Dan, aku masih ada kejutan lagi, lho.”
Kutatap Pram dengan tajam. Curiga. Kejutan apa lagi yang bakalan dia kasih?
“Tunggu aja tanggal mainnya!”
Pram tersenyum misterius.

#19

Malam itu, lagi-lagi aku menunggui Pram. Kusandarkan kursiku di dekat jendela. Diam. Menatap Pram. Bulan bersinar hangat. Bintang menemani malamku.
“Pram, aku harap kau bisa mendengarku, karena aku tahu sebenarnya kau bisa, bukan?”
Hening.
“Dua hari yang lalu, seseorang menjengukmu. Namanya Samiaji. Kau kenal?”
Hanya denyut penanda kehidupan yang menjawab.
“Dia bilang, dia leader tim insinyur dari Indonesia itu. Dia nanya sama aku, tentang bagaimana kondisimu. Aku bilang, kau koma. Dia terlihat sedih. Dia bilang, dia ikut berduka. Terus, dia bilang bakalan jenguk kamu lagi setelah semua tugasnya selesai. Emang, tugas kamu selama di Jepang, apa aja, Pram?”
Aku berhenti sebentar. Menghela napas.
Kupegang tangan Pram. Beku. Dingin. Tak bergerak.
“Sampai kapan kau terus begini, Pram? Aku merindukanmu.”
Entah sudah berapa lama Pram tak sadarkan diri, aku tak tahu. Tak kuhitung. Yang pasti, sudah lebih dari seminggu karena beberapa pohon Sakura sudah mulai bermekaran di taman dekat rumah sakit yang kulewati saat aku menjenguk Pram setiap hari.
Aku belum bertemu Hikaru lagi. Dia sepertinya masih marah padaku. Meski aku serumah dengannya, aku tetap tak bertemu dengannya. Apa ia menghindariku? Padahal, aku ingin tahu kabarnya, dan juga Yamada. Apa kabarmu, saudara Nipponku?
Pernah suatu ketika, aku tempelkan kertas pesan di pintu lemari es, tapi sampai sekarang ia tak membalasnya. Apa mungkin, ia tak membacanya? Apa mungkin, aku egois? Memang, aku hampir selalu bermalam di rumah sakit, dan pulang saat Hikaru sudah berangkat, serta pergi kuliah saat Hikaru belum pulang. Hikaru, ada apa denganmu?

Kususuri lorong menuju kamar rawat Pram. Susah payah aku membukanya, karena aku membawa beberapa buku untuk kubaca dan kubikin riset. Aku mau mengerjakan skripsiku sambil menunggui Pram.
Ketika pintu terbuka, ternyata sudah ada orang lain di sana. Mereka langsung menatapku.
“Hikaru? Yamada? Sedang apa kalian di sini? Sudah lama?” aku berpura-pura.
Buku-buku kusimpan di sofa. Hikaru berdiri. Yamada mendekatinya. Perban yang meliliti kepalanya, masih ada. Tapi, sudah berkurang.
Kuganti bunga di vas. Hikaru dan Yamada tetap diam. Selesai, aku lalu berbalik menghadap mereka.
“Aku…aku mau minta maaf soal waktu itu.”
“Yang mana?” aku berbohong. Padahal, aku juga punya salah!
Muka Hikaru berubah. Ia mendekat.
“Tolong maafkan aku. Tolong!”
Aku diam. Tatapan Hikaru melekat. Yamada hanya diam.
“Hikaru, dengarlah. Aku tak pernah mengganggap kejadian itu sebagai salahmu. Jadi, lupakanlah saja.”
“Tapi-“
Kuangkat jariku. Hikaru diam.
“Baiklah jika itu maumu. Aku memaafkanmu.”
Hikaru tersenyum. Yamada mendekat. Kami tertawa dan tersenyum bersama.
“Jadi, bagaimana?” aku melirik Yamada.
“Apanya?”
“Ah, kau jangan berlagak tak tahu begitu, Hikaru.”
Hikaru diam. Perlahan, wajahnya memerah.
“Maksudmu apa, sih?” nada suaranya bergetar.
Aku tersenyum.
“Lantas, kenapa wajahmu memerah jika kau memang tak tahu?”
Hikaru mendesah pelan. Ia seperti terkejut. Gotcha! Yamada, sama halnya. Ia tak banyak bersuara. Mereka coba menghindar. Saling menjauh, dan menghindari kontak mata.
“Ah, aku tahu! Pastinya, kau sudah bilang padanya, ya?”
Hikaru menoleh. Pipinya semakin merah padam. Aku tahu maksudnya!
Aku berdiri. Kudekati mereka, dan menggenggam kedua tangan mereka. Kucoba menahan tawa dengan tersenyum.
“Selamat! Baguslah! Aku turut gembira! Omedetougozaimasu!”
“Tapi, bagaimana kabar Pram?”
Yamada berhasil mengalihkan perhatianku. Pelan, tapi dalam. Aku menjauh. Duduk kembali di kursiku. Kutatap Yamada dan Hikaru.
“Yah, seperti yang bisa kau lihat.”
Hening. Hikaru mendekatiku. Yamada menghadap Pram. Mataku serasa panas. Ada lapisan bening yang mengambang di sana.
“Bersabarlah. Semua perlu waktu. Semua ada proses.”
Hikaru mengusap-usap tanganku.
“Terima kasih, Hikaru. Maaf aku sudah membuatmu kesal waktu itu.”
“Hei, kenapa sekarang jadinya kau yang minta maaf padaku?”
Hikaru mencoba mengajakku tersenyum. Entah, tapi aku turut tersenyum walau pipi ini mulai berlinangan air mata.
“Mungkin ini bisa membantu.”
Kutatap Hikaru yang tersenyum. Ada sesuatu di telapak tangannya.
“Burung kertas?”
Hikaru mengangguk.
“Sudah waktunya kau tahu apa arti dari burung kertas ini.”
“Maksudmu?”
“Ayolah…Kau benar-benar tak tahu ‘kan, apa arti burung kertas ini semenjak kedatanganmu kemari?”
“Iya. Tapi-“
“Dan, sampai sekarang pun, kau tetap tidak tahu, bukan?”
Diam. Hikaru benar adanya. Senyumnya mengembang. Ada apa ini?
“Yamada…”
Yamada bergerak ke sisi lain ranjang Pram. Ia membungkuk sebentar, dan mengambil sesuatu dari lantai. Tak lama, ia kembali dengan sekarung plastik besar, yang berisikan kertas. Tidak! Bukan kertas biasa! Itu lipatan kertas!
“Apa itu? Origami?”
Hikaru mengangguk.
“Ya. Di dalamnya itu, ada sembilan ratus sembilan puluh delapan origami burung kertas. Dan, yang di tanganku ini, yang ke-sembilan-sembilan-sembilan.”
“Apa maksudnya? Kenapa banyak sekali?”
Hikaru diam. Ia menegakkan tubuhnya. Yamada mendekat. Ia menyerahkan selembar kertas pada Hikaru. Aku diam saja menatapnya, sampai Hikaru menyerahkan kertas itu padaku.
“Ini. Untukmu.”
“Tapi, untuk apa kertas ini?”
“Legenda menyebutkan, jika kau membuat seribu buah burung kertas, permintaanmu akan jadi sebuah kenyataan.”
“Tapi, aku tidak membuat sebanyak itu, ‘kan?”
“Tidak. Tapi, jika kau membuat yang ke-seribu, mungkin saja permintaanmu itu bisa terkabul. Mungkin saja…”
Hikaru mengedipkan matanya. Ia tersenyum. Yamada di belakangnya juga tersenyum. Setengah tak percaya, kuambil juga kertas di tangan Hikaru itu.
“Jadi, kau mau mencobanya?”
“Baiklah. Tak ada salahnya kucoba, bukan?”
Kulipat-lipat kertas di tanganku menjadi seekor burung kertas. Tak sempurna, namun cukup rapih dan elok. Sesuai dengan apa yang pernah Hikaru ajarkan padaku dulu.
“Selesai!”
“Bagus. Nah, sekarang buatlah satu permintaan.”
Kupejamkan mata. Kugenggam burung kertas ke-seribu itu di tanganku. Minta apa, ya? Hmm…
Kuharap Pram cepat sadar dan sembuh!
“Sudah?”
Kubuka mata. Kutatap Hikaru. Senyum menghiasi wajahku.
“Sudah.”
“Bagus.”

Larut malam, barulah Hikaru dan Yamada pulang. Kami mengobrol seru. Sesuatu yang hilang sejak beberapa hari yang lalu.
Ternyata, alasan Hikaru menghilang selain karena ia sedang kesal padaku, ia juga menyiapkan burung-burung kertas itu bersama Yamada. Dan, sepertinya ia dan Yamada sudah bisa disebut ‘jadian’. Yah, setidaknya menurutku.
Ada kabar baik dari Yamada. Pihak universitas yang akan menanggung biaya perawatan dan pengobatan Pram. Dan, beasiswa S2 pada Pram tidak terpengaruh oleh kecelakaan itu. Satu sisi, aku bersyukur. Tapi, sisi lainnya….
Dan juga, Yamada menyampaikan permintaan maaf dari Samiaji. Ternyata, leader tim insinyur Indonesia itu, sedang sibuk presentasi sekaligus uji banding bersama kelompoknya – di mana seharusnya Pram berada dan ikut serta. Jadi, untuk sementara ini ia belum sempat menjenguk lagi. Pantas saja, waktu itu ia bilang sedang banyak sekali tugas yang harus dikerjakannya karena belum selesai.
Kutatap Pram di depanku. Ia masih berbaring tak sadarkan diri. Kuhela napas. Kusingkirkan bahan-bahan skripsiku, dan kugenggam erat tangannya. Dingin. Masih dingin dan kaku.
“Pram…”
Tetap. Tak ada jawaban yang kudapat.
Lelah. Aku pun terlelap.

#18

Malam sudah menjelang. Di ruang 36, hanya ada aku dan Pram. Ia terlelap dalam damai. Tubuhnya dililiti selang-selang yang menunjang kehidupannya.
Tenang. Sunyi. Sepi.
“Pram…sebenernya, apa sih yang terjadi di peragaan tadi? Kenapa kamu nggak hati-hati? Denger-denger, kamu nolong orang jadi begini. Kenapa? Sampe kapan kamu bakalan terus begini? Kenapa kamu terlalu egois untuk nyelametin orang? Kenapa?”
Hening. Hanya denyut monitor yang menemani. Suara pompa pernapasan ikut menjawabku.
Pintu di belakangku terbuka. Seseorang masuk ke dalam ruangan.
“Ghita-chan, kau tidak lelah?”
Aku menggeleng. Hikaru menyentuh pundakku.
“Aku turut bersedih.”
“Ya.”
Diam. Tak ada suara.
“Bagaimana Yamada?”
“Dia baik. Luka di kepalanya tak mengharuskannya sampai dirawat di rumah sakit. Hanya beberapa jahitan yang kini menghiasi kepalanya.”
“Oh.”
Lama, kami hanya membisu.
“Kalau kau lelah, pulanglah saja. Aku masih ingin di sini bersamanya. Menjagainya.”
“Tapi, kau ‘kan tidak tahu apa dia akan sadar atau tidak?”
“Justru karena itu. Aku ingin ada di sampingnya saat dia membuka mata dan tersadar nanti. Walau harus menunggu sampai kapan pun.”
“Haruskah kutemani?”
“Tidak usah. Aku tahu kau ingin berada di tempat lain saat ini.”
Hikaru diam. Aku menduga-duga apa jawabannya. Aku tahu, ia sebenarnya ingin sekali menjagai Yamada. Aku tahu itu, Hikaru! Aku tahu!
“Ah, tidak juga.”
Kutatap wajah Hikaru.
“Ayolah. Kau tidak perlu berbohong padaku. Aku tahu.”
“Tapi-“
“Sudahlah. Aku tidak apa-apa. Lebih baik aku sendiri bersamanya. Sehingga, aku bisa tenang menjagainya.”
Hikaru diam. Ia menatapku.
“Baiklah. Tapi, kalau kau ada apa-apa, telepon saja aku. Ponselku akan selalu menyala sepanjang malam. Jangan lupa!”
“Oke.”
Hikaru menyimpan segelas kopi yang masih utuh di meja.
“Kopi ini untukmu. Cari makan-lah. Isi perutmu.”
“Iya. Gampang. Salam saja, ya untuk Yamada.”
Hikaru berhenti. Ia menatapku. Heran.
“Dari mana kau tahu?”
Aku tersenyum.
“Matamu.”
Hikaru semakin tak percaya. Alisnya terangkat sebelah. Aku mendekatinya.
“Sudahlah. Pergi saja sana! Kau tak perlu memikirkan ucapanku jika itu tak benar. Sudah. Pergi sana!”
“Ta-tapi..”
Kuambilkan mantel Hikaru dan memberikan padanya. Tasnya juga. Kudorong ia ke pintu sampai keluar.
“Selamat jalan, Hikaru. Hati-hati!”
“Hei, Ghita-chan…”
KLIK!
Kututup pintu, dan kubiarkan Hikaru berada di luar. Aku berbalik ke ranjang Pram.
“Hei, jaga dirimu, ya!”
“Ya.” jawabku pada Hikaru yang muncul dari balik pintu. Tak lama, ia pergi.

Sudah tiga hari semenjak Pram masuk Rumah Sakit. Aku tak lelahnya menungguinya siang-malam. Hanya kuliah, skripsi, dan Hikaru yang bisa mengingatkanku untuk beristirahat.
Aku menunggu bis di dekat halte kampus. Tak biasanya halte ini begitu sepi. Hanya ada aku dan Hikaru siang ini. Ingin rasanya aku cepat sampai di rumah sakit, dan menunggui Pram lagi.
“Kau tak perlu menemaniku. Aku bisa sendiri, kok.”
Hikaru menatapku tak percaya.
“Tidak apa. Aku hanya takut, kau ada apa-apa. Kau kurang istirahat belakangan ini, Ghita-chan. Jaga juga kesehatanmu! Jangan sampai, hanya karena menjagai orang lain, kesehatanmu sendiri sampai terlupakan!”
“Ya…Ya…Ya…”
“Lagipula, apa jadinya kalau kau tiba-tiba pingsan di jalan?”
Aku diam. Bisa saja Hikaru mencari-cari alasan. Haruskah aku menyindirnya langsung? Haruskah?
“Sudahlah, Hikaru. Kau tak perlu bohong padaku. Semenjak malam itu pun, aku tahu kau selalu ingin bersama Yamada, bukan?”
Hikaru membelalak.
“Dari mana kau punya pikiran seperti itu?”
“Bukankah aku sudah bilang? Dari matamu, Hikaru…Dari mata..”
Hikaru diam. Ia menunduk.
“Ayolah, aku tahu kalau sebenarnya kau menyukainya, ‘kan? Jangan pernah coba-coba membohongiku, ya Hikaru.”
Diam. Hikaru tak menjawabku.
“Iya, benar bukan?”
Hikaru tetap tak menjawab. Ia menggigiti bibir bawahnya. Salah tingkah, sepertinya.
“Tapi-“
Diam. Ia tak melanjutkan kata-katanya. Aku menunggu.
“Tapi apa?”
Hikaru lagi-lagi menunduk.
“Aku memang menyukainya. Tapi perasaanku menyatakan, jika ia lebih menyukai orang lain selain diriku.”
“Siapa?”
Hikaru menatapku.
“Kau.”
Aku tak percaya mendengar jawaban Hikaru itu. Mencengangkan! Itu tak mungkin!
“Ah, tidak benar itu. Kau mungkin salah. Itu tidak mungkin, Hikaru.”
“Tidak! Tidak, Ghita-chan! Itu benar! Buktinya sudah jelas, dan terlihat di depan mataku sendiri!”
“Contohnya?”
“Kau tahu, di malam saat kau menyuruhku pergi dan menemuinya, hal pertama yang dia tanyakan saat bertemu dengaku adalah, kau! Dia langsung bertanya padaku tentang kondisimu!”
Apa? Mana mungkin!
“Dan, tahukah kau, saat kecelakaan di auditorium tiga hari yang lalu, tidakkah kau perhatikan Yamada yang langsung berdiri saat kau datang? Padahal, lukanya cukup parah!”
Aku diam. Tak berani menjawab Hikaru.
“Benar, ‘kan?!”
“Aku tidak menyukainya! Kau-lah yang menyukainya! Aku belum pernah sekalipun memiliki rasa untuknya. Tidak sama sekali!”
“Tapi-“
Bis berhenti di halte. Aku masih diam. Hikaru diam.
“Ada satu hal yang harus kau tahu, Hikaru. Aku tidak menyukainya. Aku tidak menyukai Yamada! Kalau dia menyukaiku, aku tak ambil pusing! Karena, aku punya Pram! AKU PUNYA PRAM!
“Kalau kau menyukainya, dekatilah ia! Lupakan masa lalumu itu! Ubah juga pendirianmu! Banyak kesempatan yang bisa kau raih!” ucapku panjang lebar.
Hikaru diam.
“Sudah, aku harus pergi ke rumah sakit. Sampai jumpa!”
Aku naik ke dalam bis tepat sebelum pintunya menutup. Hikaru coba mengejar, tapi percuma. Bis sudah mulai berjalan.
“Ghita-chan! Tunggu! Stop!”
Aku melihat Hikaru menjauh seiring berjalannya bus. Di sebuah kursi kosong, aku duduk dan menghembuskan napas.
Fiuh!

#17

Esoknya, aku ke kampus seperti biasa. Selain kuliah dan konsultasi dengan dosen tentang skripsiku, aku kembali menenggelamkan diri di perpustakaan. Mengembalikan beberapa buku yang sudah kubaca, sekaligus mencari lagi beberapa buku yang baru.
Perpustakaan cukup penuh siang itu. Aku tak kebagian tempat duduk. Terpaksa, aku berdiri. Dan agar tak jauh, aku berdiri sambil membaca di dekat rak-rak sastra.
“Hai, kita bertemu lagi.”
Aku menoleh ke suara di belakangku.
“Aoshi? Kok kamu di sini?”
“Ghita, aku mahasiswa sini juga.”
“Oh iya, ya. Sori.”
Aoshi hanya tersenyum. Cute-nya hilang. Lebih cute Pram! Khas!
“Bisa bicara sesuatu?”
“Tentang apa?”
“Hikaru.”
“Kenapa?”
Aoshi diam. Ia melihat sekeliling. Sepertinya, ia takut orang lain mendengar pembicaraannya.
“Aku menyukainya.” bisik Aoshi.
Aku tersenyum. Geli. Ingin sekali aku tertawa, tapi pastinya berisik. Jadi, kutahan tawa itu sampai terbatuk-batuk.
“Kenapa, sih?”
“Kau serius suka sama Hikaru?”
“Iya. Kenapa memangnya?”
“Tidak apa-apa. Terus, kau maunya bagaimana?”
“Mmm, dia masih single?”
“Ya.”
“Bagus!”
“Tapi, kupikir sepertinya ada yang sedang mendekatinya! Sudah lama lagi! Sudah sejak setahun yang lalu!”
“Yah… Siapa?”
“Rahasia!”
“Rahasia? Ayolah Ghita, bagi-bagi denganku! Siapa tahu saja, aku berkesempatan!”
“Sudahlah. Lupakan saja. Kau tidak berpeluang, meski yang lagi mendekatinya itu mundur. Percayalah.”
“Bagaimana bisa?”
“Hikaru, dia sedang tidak mau dekat-dekat dengan pria dulu. Trauma!”
“Hah?”
Duh, apa harus aku beritahu sejarahnya?
Ponselku tiba-tiba berdering. Saved by the bell! Wajah Aoshi berubah masam. Aku menjauh, dan mengangkat telepon.
“Halo?”
“Ghita-chan, kau lagi di mana?”
“Eh, Hikaru. Tumben kau meneleponku. Aku lagi di perpustakaan. Ada apa?”
“Bisa ke gedung Teknik, sekarang? Ini sangat penting!”
“Memangnya kenapa? Sepertinya serius sekali?”
“Sudah! Jangan banyak tanya! Pokoknya, cepat kemari! Aku tunggu di lobby dekat auditorium!”
“Tapi-“
KLIK! Tut-tut-tut!
Hubungan teleponku terputus. Kutatap Aoshi.
“Hikaru kenapa?”
“Kau mau ke gedung Teknik, tidak?”
“Kelasku masih lama. Ada apa?”
“Aku juga tidak tahu.”
Mendadak, aku teringat dengan perkataan Pram semalam. Hari ini ada peragaan di auditorium. Ada apa? Apakah menyangkut Pram?
“Ghita. Ada apa? Mukamu kenapa pucat?”
Pucat? Hatiku langsung merasa tak enak. Aku hanya ingin segera pergi. Segera ke auditorium Teknik.
“Sudahlah. Aku hanya ingin pergi.”
“Ke mana?”
“Auditorium Teknik.”
“Untuk apa?”
“Hikaru menyuruhku ke sana. Aku juga tidak tahu. Tapi, hatiku merasa tidak enak.”
“Lho, bukankah sedang ada peragaan mekatronika di sana?”
“Justru itu!”
Kusimpan buku di rak dengan asal. Aku lalu bergegas keluar perpustakaan. Kutinggalkan Aoshi begitu saja. Aku hanya ingin segera menemui Hikaru di lobby dekat auditorium. Ada apa, ya? Nada suara Hikaru terdengar gawat tadi!
Pikiran-pikiran buruk mulai berseliweran dalam benakku. Kuharap, Hikaru baik-baik saja. Tapi, apa Hikaru saja? Bagaimana kalau yang lain? Bagaimana jika Pram. Pram?
Pelataran gedung auditorium terlihat penuh. Orang-orang sibuk lalu-lalang. Sebagian menampakkan kecemasan. Beberapa di antaranya mengenakan seragam. Ada apa?
Aku memaksa masuk gedung dengan berdesak-desakkan. Aku berjuang untuk segera sampai ke lobby dan mencari Hikaru.
Saat sampai di lobby, aku tak percaya dengan apa yang kulihat. Beberapa orang nampak terluka dan diperban. Mereka tergeletak di lantai. Ada apa ini? Di satu sudut, kulihat Hikaru tengah berjongkok menemani seorang pria. Kepala pria itu diperban.
“Hikaru, ada apa ini?”
Hikaru berbalik. Ia berdiri. Wajahnya pucat. Matanya berkaca-kaca.
“Ghita-chan, kuatkan hatimu, ya?”
“Hah? Memangnya ada apa?”
Pria di samping Hikaru mencoba berdiri. Ia tertatih. Perban di kepalanya membuatku hampir tak mengenalinya.
“Ada kecelakaan.”
“Bagaimana bisa? Kecelakaan apa? Kok, sampai banyak korban begini? Yamada! Jawab aku!”
Yamada diam. Meringis. Ia meraba kepalanya yang masih diperban itu. Hikaru membantunya duduk. Entah, tapi perasaanku tak enak sekali. Pasti ada hubungannya dengan sesuatu. Pram. Pram?
Aku langsung berbalik menuju auditorium dan berlari.
“Ghita-chan! Tunggu! Kau mau ke mana?”
Aku tak menggubris. Aku langsung menerjang orang-orang yang keluar masuk auditorium. Susah payah, aku baru bisa masuk. Keadaan di dalamnya benar-benar tak bisa kupercaya.
Area tengah dipenuhi dengan berbagai macam barang. Konstruksi, besi, baja, kertas, dan beberapa mesin dan benda yang lebih mirip dengan robot.
Sekejap, Pram terlintas di benakku. Pram, bukankah kau bilang sedang ada peragaan hari ini? Lalu, di mana kau? Mungkinkah peragaan ini…
Aku mencari-cari ke setiap sudut. Pram tidak ada. Hanya tampak beberapa petugas pemadam kebakaran dan satpam yang sedang memeriksa. Berjaga-jaga dan memeriksa, seandainya ada korban lagi.
Pram, kau di mana? Kau baik-baik saja,’kan?
Aku berbalik. Mencoba berlari. Tapi, aku menubruk seseorang.
“Hikaru! Minggir!”
“Kau mau ke mana?”
“Aku mau cari Pram! Dia katanya peragaan hari ini, tapi kok tidak ada kabarnya?”
Wajah Hikaru berubah pucat. Cemas. Ia menunduk sebentar, dan menatapku lagi. Pasti ada yang tidak beres! Pasti!
“Hikaru, ada apa? Apa yang kau sembunyikan dariku?”
“Pram…dia…dia dibawa ke rumah sakit setelah pingsan karena kecelakaan.”
“APA?”
“Tadi, ketika sedang ada peragaan tiba-tiba konstruksi untuk robotnya rubuh, dan menimpa beberapa orang. Sebenarnya Pram tidak akan kena, tapi ia menolong beberapa orang dengan mendorong mereka sehingga ia yang tertimpa.”
Kepalaku pusing. Pijakanku goyah.
“Ghita-chan, kau tidak apa-apa? Ghita-chan!”
Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, hatiku diliputi kecemasan. Gelisah. Gundah. Aku menggigiti jari. Hikaru bersamaku.
Sampai di pintu depan, aku menghambur keluar dari taksi dan menuju resepsionis. Kujumpai seorang perawat wanita. Pram! Pram! Pram!
“Selamat sore. Ada yang bisa dibantu?”
“Pram! Pram!”
“Maaf?”
“Pram!”
Perawat itu mengernyitkan dahinya. Tampaknya, ia tak mengerti. Aku ini mencari Pram, tahu!
“Maaf suster, kami mencari seorang pasien bernama Pramudya. Dia dibawa kemari dari Universitas Tokyo. Dia korban kecelakaan siang tadi setelah tertimpa konstruksi. Bisa tolong dicarikan?”
“Oh, sebentar.”
Suster itu menghadap komputernya. Aku menatap Hikaru. Ia tersenyum. Ketenangannya membuatku kagum. Great job, Hikaru!
“Baiklah, Pramudya. Indonesia. Dia sedang di UGD.”
“Terima kasih!”
Aku berlari ke UGD. Papan penunjuk jalan di lorong membantuku menemukan UGD. Tak kuhiraukan pandangan orang-orang sepanjang lorong. Aku hanya ingin menemukan Pram! Aku ingin menemukan Pram segera!
Aku berhenti di lorong dekat UGD. Seorang dokter dan perawat pria tengah mendorong ranjang. Di atasnya terdapat sesosok pria. Dari jauh bisa kukenali pria di atas ranjang itu. Pram. Matanya terpejam. Beberapa selang menempel di tubuhnya.
“Pram.” ucapku pelan ketika mereka lewat di depanku.
Dokter itu berhenti. Ia menatapku. Perawat pria itu menunggu.
“Anda kenal pasien ini?”
“Ya. Namanya Pramudya Bakhtiar. Orang Indonesia. Dia kenapa, Dok?”
Dokter itu melihat catatannya.
“Ya, benar. Namanya Pramudya. Dia tak sadarkan diri karena beberapa trauma di tubuhnya. Terutama, kepalanya. Ia terkena gegar.”
“Lalu, kapan dia bisa sadarkan diri dan sembuh, Dok?”
Dokter itu diam. Ia seperti menggumamkan sesuatu.
“Sepertinya butuh waktu lama sampai ia sadar sepenuhnya. Sebenarnya, ia tak mengalami luka berat. Beberapa memar, tak akan menghambat kesembuhannya. Tapi, gegar pada kepalanya itu…”
Dokter itu tak melanjutkan kata-katanya. Tanpa perlu ia katakan pun, aku sudah mengerti. Sepertinya, Pram akan koma. Koma…Seandainya bukan kata itu yang terlintas di benakku!
“Apakah ia koma?”
Dokter itu mengangkat alisnya.
“Saya takutkan seperti itu.”
Hatiku serasa dihantam godam. Sakit. Hancur. Lebur.
“Anda tidak apa-apa?”
Aku hanya diam. Dokter itu tetap memandangku. Goyah. Kucari pegangan.
“Ghita-chan, kau tidak apa-apa?”
Kutatap Hikaru. Bagaimana bisa tidak apa-apa! Tapi, suaraku tercekat.
“Nona?”
“Di mana dia akan dirawat?” kataku pada akhirnya.
Tatapan dokter itu kembali seperti biasa. Cengkeraman Hikaru di bahuku melemah.
“Mari, ikuti saya.”

#16

Kubuka pintu dan masuk. Kupakai sandal, dan beranjak menuju kamarku.
“Ghita-chan, kau sudah pulang?”
Kutatap Hikaru di ruang TV. Ia sedang menonton sebuah acara.
“Ya. Ada apa?”
Hikaru langsung mematikan TV dan berbalik menghadapku. Sorot matanya menyala-nyala. Jelas, ia menginginkan sesuatu.
“Bagaimana ceritanya?”
Aku tersenyum lemah. Malas.
“Ah, kau ini. Mau tahu saja!”
“Yah, ayo dong! Ceritakan padaku! Aku juga ingin tahu!”
Aku mendekat. Aku duduk di depannya.
“Kau ini. Benar-benar bisa lupa dengan kejadian beberapa saat yang lalu, ya?”
“Ah, kau ini! Jangan mengalihkan pembicaraan! Jangan kau pikirkan masalahku! Aku sudah baik-baik saja! Hanya saja, Aoshi membangkitkan kenanganku.”
Aku tersenyum lagi.
“Baiklah, kau mau tahu sebelah mananya?”
“Semuanya. Lengkap dari awal sampai akhir!”
“Itu pasti lama dan makan banyak waktu!”
“Ya, kau singkat-singkat saja! Ceritakan hal-hal pentingnya!”
Kutatap Hikaru. Ia begitu bersemangat. Haruskah kuceritakan padanya?
“Baiklah. Aku menemuinya di acara itu.”
“Acara yang diberitahu Yamada itu?”
Aku mengangguk.
“Ya. Tadi setelah acara itu selesai, aku menemuinya.”
“Lalu, bagaimana ceritanya sampai ia bisa sampai ke sini? Kalian melakukan apa saja sampai aku pulang tadi?”
Melakukan? Kenapa aku justru berpikiran negatif, ya?
“Kami mengobrol. Lama. Mulai dari kafetaria siang tadi, sampai ia menawarkan untuk mengantarku pulang. Dan, aku tidak mau kasar padanya, jadi kupersilakan ia untuk mampir dan meminum teh sebentar.”
“Hanya minum teh?” tatapan Hikaru berubah. Aku tahu apa artinya!
“Ya. Hanya minum teh.”
“Lantas, kenapa tadi saat aku pulang, kalian sedang berdiri? Sepertinya kalian hendak melakukan sesuatu tapi tidak jadi karena aku keburu pulang.”
“Ah, tidak juga. Itu hanya perasaanmu saja!”
Aku berdiri. Menghindar.
“Tapi, kok sepertinya begitu?”
Aku keluar dari ruang TV.
“Sudahlah. Tak perlu kau tanyakan lagi selebihnya! Aku mau ke kamar dulu!”
Aku segera melarikan diri ke kamarku. Aku tak mau Hikaru menanyakan yang lainnya, karena aku pastinya tak akan bisa menjawabnya.
“Hei, Ghita-chan! Kita belum selesai! Kau masih berutang cerita padaku! Jangan lupa itu!”
Aku diam. Teriakannya tak kuhiraukan.
Gelap. Kamarku hanya diterangi sinar bulan dari jendela. Pastinya Hikaru sudah terlelap selarut ini.
Kuambil kursi dan kudekati jendela. Kubuka. Kubiarkan angin malam menyentuhku. Menyapaku. Mengibarkan rambutku.
Aku berdiam. Menikmati.
Kutatap kertas pemberian Pram di genggaman. Di bawah sinar bulan, aku membacanya. Berulang-ulang.
Hotel Tokyo International. Kamar 307.
Pram. Ada apa sebenarnya denganku? Mengapa aku justru memikirkan Pram?
Kuambil telepon. Kuputar nomor telepon rumah. Aku ingin berbicara dengan Bunda. Kuharap, Bunda belum tertidur di sana. Ah, masa sudah tidur? Sekarang pastinya baru jam sembilan malam di sana!
Nada sambungnya lama. Aku menunggu.
“Halo?”
“Halo? Bunda? Ini aku!”
“Ghita? Ini bener-bener kamu? Tumben banget kamu nelepon Bunda. Ada apa, Nak?”
“Ah, enggak apa-apa, Bunda. Aku cuma lagi pengen denger suara Bunda.”
“Oh. Jadi, nggak ada kejadian apa-apa atau yang penting, gitu?”
Aku diam. Curiga. Apa maksudnya? Kok Bunda ngomong gini?
“Ah, enggak juga.”
“Kamu yakin?”
Aku diam lagi. Heran. Apa maksud Bunda?
“Maksud Bunda apa, sih? Kok perasaan jadi aneh gini? Ada apa Bunda?”
Hening. Bunda tak menjawab.
“Bunda?”
“Ah, nggak apa-apa. Bunda hanya ingin tahu harimu saja.”
“Oh. Aku hanya bertemu dengan seseorang yang aku udah lama nggak ketemu sama dia, kalo itu yang Bunda maksud.”
“Oh. Itu bener?”
“Ya.”
“Boleh Bunda tau siapa orangnya?”
Aku diam sebentar. Haruskah Bunda tahu?
“Pram.”
“Pram?”
“Pram. Dia cowok yang aku kenalin ke Bunda waktu dulu itu.”
“Oh, maksud kamu cowok yang tinggi dan baik itu?”
“Yah, kalo kata Bunda dia gitu, iya sih. Itu emang dia.”
“Lho, kok kamu bisa ketemu dia?”
“Dia kebetulan lagi ada di sini. Dia lagi ada kunjungan sama beberapa orang lainnya ke kampusku.”
“Oh. Dia emang pinter, ‘kan? Wajar aja dia bisa jadi insinyur dan bisa ke Jepang sama orang laennya.”
Mendadak, ada yang terlintas di benakku. Dari mana Bunda tahu Pram seorang insinyur? Adakah yang Bunda sembunyikan dariku?
“Bunda, dari mana Bunda tau Pram itu insinyur?”
Diam. Hening.
“Emm…oh…itu, Bunda nebak aja. Universitas tempat kamu kuliah itu ‘kan terkenal sama kuliah Teknik dan Sastra-nya, ‘kan?”
Bukan. Bukan itu. Pasti Bunda tahu sesuatu!
“Oh.”
“Ah, sudahlah. Kamu nggak usah mikirin ucapan Bunda tadi. Kamu sehat?”
“Ya. Bunda sendiri? Ayah, Dhani, dan si kecil Rhama?”
“Ya, mereka baik-baik saja. Bagaimana kuliahmu?”
Malam itu, aku menelepon Bunda sampai lama. Aku tak mempedulikan tagihan pulsa teleponku yang pastinya bisa membuat Hikaru menjerit histeris. Ah, biar saja. Sekali-sekali ini.
Banyak sekali hal-hal yang aku tahu malam itu dari Bunda. Dhani yang menjadi juara kelas, Rhama yang sudah kelas tiga SD, dan masih banyak lagi. Tapi, ada yang mengganjal. Sikap Bunda dan kata-kata Bunda. Dari mana Bunda tahu Pram seorang insinyur?

#15

Teko teh sudah hampir kosong. Cangkirku dan Pram sudah kosong. Ia diam di hadapanku. Lama.
“Udah lama kita nggak ngobrol sebanyak dan selama ini.”
“Ya. Kalo lagi minum teh, enaknya emang ngobrol, sih. Apalagi kalo sama Hikaru. Wah, bisa lupa waktu!”
Pram tersenyum. Ia menatap arlojinya. Kulihat dirinya.
“Jam setengah delapan. Aku harus balik ke hotel sebelum mereka ngehubungin polisi dan ngabarin orang hilang.”
“Ya.”
Bisa saja Pram bercanda!
Kukira, Pram akan bangkit. Tapi, ternyata ia hanya diam dan menatapku. Aku hanya bisa diam. Beku. Kaku.
“Kamu masih single?”
Hah? Kok tiba-tiba nanya itu? Apa maksudnya?
“Ya.”
Duh, kok jujur banget, sih? Kelepasan, nih!
“Kamu sendiri?”
“Aku juga…”
Yes! Kok?
“…Tapi, sekarang-sekarang ini, aku lagi deket sama seseorang.”
Yah, kecewa deh! Kecewa?
“Kenapa? Kok mukamu langsung berubah?”
“Ah, enggak apa-apa. Baguslah kalo kamu lagi deket sama dia. Dan juga, nginget-nginget rencana-rencana yang udah kamu pernah bilang dulu ke aku.”
“Ya. Apalagi, sekarang udah hampir semua yang aku rencanain udah jadi kenyataan.”
“Emangnya, apalagi yang belum?”
“Nikah.”
Aku diam. Nikah? Pram ingin nikah? Dengan siapa? Apakah dengan wanita yang sedang dekat dengannya ini?
“Sudah seberapa deket?”
“Apanya?”
“Sama orang yang lagi dideketin ini.”
“Oh. Lumayan.”
“Bagus.”
“Tapi, aku lagi ada masalah.”
“Apa?”
“Kaya’nya, aku bakalan susah buat nyatain ke dia.”
“Udah coba deketin keluarganya?”
“Wah, jangan tanya! Aku bahkan udah nanya dan minta izin sama nyokapnya!”
Sialan! Ternyata dia memang benar-benar sudah siap. Yah, hilang sudah peluangku! Tapi, kenapa aku berpikiran seperti ini?
“Tapi?”
“Tapi, aku nggak tau gimana cara bilangnya ke dia kalo aku ‘tuh sebenernya suka, dan sayang sama dia.”
“Dia orang mana?”
“Ya, Indonesia-lah!”
“Ya, itu aku tau. Maksudku, sekarang ini apa kerjaannya?”
“Oh, kalo nggak salah, sih…Dia masih kuliah gitu, deh.”
“Wah, susah tuh! Apalagi, sekarang ini kebanyakan cewek pengennya jadi wanita karir. Mereka nggak terlalu mikirin buat nikah cepet-cepet. Apalagi kalo masih kuliah.”
“Emang, sih. Aku udah ngeduga itu.”
Hening.
“Kalo kamu gimana?”
“Maksudnya?”
“Yah, apa kamu juga berpikiran buat jadi wanita karir juga?”
Aku diam sebentar. Bingung. Kenapa Pram bertanya hal-hal seperti ini? Apa tujuannya? Kenapa ia banyak sekali menanyakan pertanyaan yang agak-agak aneh?
“Sebentar, Pram. Aku mau tanya dulu. Apa, sih tujuan kamu nanya gini sama aku?”
“Kenapa emangnya? Aneh?”
“Jawab aja pertanyaanku.”
“Yah, aku cuma mau ngebandingin aja. Kamu ‘kan cewek. Wanita. Perempuan. Apa mungkin setiap perempuan itu mikirnya sama seperti apa yang kamu bilang?”
“Cuma itu?”
Pram meraba dagunya.
“Ya.”
Bohong! Pasti ada yang lainnya! Tapi apa?
“Jadi?”
“Apanya yang jadi?”
“Pertanyaanku. Apa kau ingin jadi wanita karir juga?”
“Nggak juga. Aku nggak munafik, ya. Sebenernya, aku juga pengen jadi wanita karir. Tapi, kalo misalnya aku tau-tau dapet jodoh, dan langsung married. Why not?”
Pram diam. Ia sepertinya hendak tersenyum. Tapi, cepat-cepat ia merubah posisi duduknya.
“Oke.”
“Balik lagi ke masalah kamu. Dia kuliah di mana?”
Pram diam. Alisnya terangkat satu. Tersenyum.
“Rahasia.”
“Lho, kok gitu, sih? Apa aku nggak boleh tau?”
Pram meraba dagunya lagi. Ia memainkan janggut tipisnya.
“Mmm…, nggak. Kamu nggak boleh tau. Ini privasiku.”
Aku menghela napas. Kusandarkan diriku ke sandaran kursi. Yah, nggak tau, deh! Padahal, aku pengen banget tau siapa cewek yang lagi dideketinnya!
“Lalu?”
“Gini aja, deh. Dia tau kamu lagi ke Jepang?”
“Asalnya enggak. Tapi, sekarang dia sepertinya udah tau.”
“Nah, kamu kasih aja sesuatu yang khas dari Jepang! Yah, sekalian pas ngasih itu, kamu ngaku dan nyatain rasa suka kamu sama dia!”
“Wah, gimana ya? Aku ‘kan nggak tau apa yang khas dari Jepang!”
“Gimana kalo nanti, di Festival Hanami, kamu cari aja sendiri! Banyak, lho! Banyak banget!”
“Wah, boleh juga tuh! Emangnya kapan?”
Diam. Kutatap Pram. Pintar juga ia memancingku.
“Hmm, ‘kan udah aku bilang tadi. ‘Tunggu aja tanggal mainnya!’”
“He-he-he. Kamu masih inget aja. Ternyata kamu masih sama. Nggak gampang lupaan!”
“Ya, Ghita gitu, lho!”
Pram tertawa. Cakep juga!
“Aku harus pergi, nih.”
Pram berdiri. Aku sama halnya.
“Ayo, kuantar kau ke depan.”
Pram memakai jasnya. Ia membenarkan dasinya. Aku tergerak untuk membenarkan. Aku maju. Dan membenarkan dasinya. Pram diam. Ia menatapku.
“Nah, selesai.”
“Thanks.”
“Kamu ini, emang paling nggak becus kalo soal penampilan.”
“Yah, namanya juga insinyur. Ngapain aku susah-susah pake dasi kalo setiap hari ada di lapangan?”
“Emang, kerja kamu apaan sebenernya?”
“Sebenernya, sebelum aku dikirim ke sini, aku udah kerja di perusahaan tambang gitu. Aku jadi bagian Quality Control. Kerjaku di lapangan tiap hari. Ngawasin hasil.”
“Oh. Enak kerjanya?”
“Yah, kalo kamu anggep bisa punya rumah dan mobil sebagai standar. Aku bilang itu lumayan.”
Aku tersenyum. Pram sama halnya. Gile! Udah punya rumah dan mobil?
“Terus, gimana sekarang setelah ditinggal? Kamu ‘kan belum lama kerja di sana.”
“Mmm, aku nggak sepenuhnya ninggalin kerjaan itu. Karena ternyata, perusahaan tempatku bekerja ini, sedang akan membuka cabang di Jepang sini. Dan, aku jadi salah satu pionir karyawannya.”
Pantas! Pasti ini yang wanita di kereta itu bicarakan!
“Wah. Enak, dong!”
“Ya.”
Hening. Aku dan Pram hanya bertatapan.
Entah dorongan dari mana, perlahan aku dan Pram mendekat. Kepala kami saling berdekatan. Kupejamkan mata. Aku ingin menciumnya!
Hatiku berdebar. Perasaanku tak menentu. Serasa lama sekali. Aku ingin mencium Pram! Ayo! Cepat! Pram, cium aku!
“AKU PULANG!”
Teriakan Hikaru menyadarkanku. Kubuka mata. Menjauh. Pram sama halnya. Kami berdiri masing-masing. Kikuk. Salah tingkah.
“Hei! Ternyata ada tamu! Siapa, Ghita-chan?” Hikaru muncul di pintu ruang tamu.
“Uh…oh..dia…”
“Saya Pram. Saya teman Ghita dari Indonesia.” Pram menjawab dalam bahasa Jepang. Kok bisa?
“Oh, jadi Anda ini Pram, ya? Bahasa Jepang Anda, lancar juga! Belajar dari mana?” Hikaru bertanya dalam bahasa Jepang juga.
Pram bingung. Ia diam.
“Maaf, saya hanya bisa perkenalan saja. Tapi, saya mengerti apa yang Anda ucapkan. Hanya saja, saya tidak bisa menjawabnya dalam bahasa Jepang juga.”
Hikaru menatap heran Pram yang menjawab dalam bahasa Indonesia.
“Ah, tidak apa. Dulu, aku juga begitu dengan bahasa Indonesia. Baru setelah aku mendapat homestay bersama Ghita-chan, aku bisa lancar seperti ini.” jawab Hikaru dalam bahasa Indonesia.
Pram tersenyum.
“Anda baru datang, atau mau pulang?”
“Pulang. Dia mau pulang, Hikaru. Dia masih ada acara.”
“Oh. Pasti masih dalam rangkaian kunjungan Anda ke Jepang kali ini, ya?”
“Ya.”
“Ya, sudah! Ayo Pram, aku antar kamu ke depan!”
Aku mendekati Pram. Kudorong ia menuju pintu depan.
“Hei, Ghita-chan! Nanti, cerita-cerita, ya!”
“Enak saja!”
Aku mencibir Hikaru yang langsung balik mencibir. Kutinggalkan ia, dan menuju pintu depan dengan Pram.
“Jadi, tadi itu Hikaru?”
“Ya. Dia cerewet dan selalu pengen tau, ya?”
“Ada benarnya.”
Pram dan aku berjalan berdampingan. Kuantar ia ke stasiun. Kami tak membahas kejadian sebelum Hikaru pulang tadi. Ataukah belum?
“Emang, malem gini masih ada kereta?”
“Ya, ada! Ini bukan Jakarta yang udah sepi di jam-jam segini! Ini Tokyo! Kereta ke pusat kota, masih ada sampai jam sepuluh.”
“Oh.”
Tak lama, kami sampai di stasiun. Sepi. Pram membeli tiket. Kami lalu duduk menunggu di kursi peron.
“Mengenai yang tadi…”
Aku menunggu. Pram menatap ke rel. Aku tahu arah pembicaraannya.
“Kenapa?”
“Kita anggap itu nggak pernah terjadi, ya. Mengingat status kita yang berbeda daripada dulu.”
Aku diam. Yah! Kok gitu, sih! Coba Hikaru nggak pulang, pasti aku udah dicium Pram! Dicium? Kenapa sekarang aku jadi pengen gini, ya? Apa karena…
Hening. Sepi. Rel kereta di depanku mulai berderak. Tanda kereta datang.
“Oh, iya. Hampir kelupaan!”
Pram mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Sebuah kertas dan pulpen. Ia menuliskan sesuatu di atasnya.
“Ini tempat aku menginap.”
Kutatap kertas itu. Kubaca.
Hotel Tokyo International. Kamar 307.
“Kalo ada apa-apa, hubungin aja ke situ.”
“Oke. Sip!”
Sebuah lampu sorot membelah gelap. Kami berdiri. Ini kereta ke pusat kota.
“Keretanya udah nyampe.”
“Iya.”
Lama, kami bertatapan. Kereta berhenti, dan membuka pintu.
“Aku pergi dulu. Sampai ketemu lagi!”
“Hei, bentar!” kutarik tangan Pram. “Kapan kira-kira kamu ada waktu kosong seharian?”
“Hmm…besok aku ada seminar dan peragaan di auditorium. Lusa, masih ada meeting.”
Yah, masa’ nggak ada yang kosong, sih?
“Coba kamu hubungin aku besok malem! Nanti, aku cek lagi jadwal buat lusa. Siapa tau, meeting itu nggak bakalan lama. Atau, besok kamu dateng aja ke auditorium! Nonton dulu!”
TIT!
Tanda kereta akan segera berangkat. Pram beranjak mendekati kereta.
“Sudah, ya! Aku pergi dulu!”
“Kamu tau di mana turunnya, ‘kan?”
“Ya! Turun aja di stasiun deket kampus kamu, ‘kan?”
Pram melompat masuk ke dalam kereta tepat sebelum pintunya menutup. Ia berdiri dekat kaca dan menatapku.
“Telepon aku!”
Suara Pram teredam. Tak terdengar jelas. Tangannya menirukan gagang telepon. Aku tersenyum. Mengangkat jempol. Ia sama halnya.
Kereta mulai bergerak lambat. Semakin lama, semakin cepat. Aku melambai. Pram juga. Entah, tapi ada perasaan kehilangan di hatiku.
Rel di peronku sudah kosong. Kereta sudah pergi. Dengan Pram di dalamnya. Aku pulang. Dengan sesuatu yang terasa di hatiku. Apa ini? Bahagia-kah, atau lebih dari itu? Mungkinkah cinta? Tapi, kenapa aku merasa begitu kehilangan?