Posts Tagged 'harian'

The Journey, vol.13: The Offer

Sisa hari kuhabiskan dengan pembahasan yang menjemukan di meeting yang sama setelah break. Dan, meski semua materinya aku sudah tahu, tapi aku tak lagi diam saja. Aku memberikan beberapa masukan, dan juga usulan ke para peserta rapat.

Beberapa usulanku sepertinya mengena. Bukan karena aku utusan dari Jakarta, tapi lebih kepada usulanku belum terpikir oleh mereka. Dan yah, aku berharap usulan-usulan itu memang bisa berguna dan kemudian dijalankan sehingga kantor Bandung ini menjadi lebih maju dibanding sebelumnya. Terutama strategi visualisasi kreatif yang nantinya akan dikembangkan di sini.

Sikapku yang tak lagi diam dan juga lontaran-lontaran usul tersebut tak lain karena aku mencoba untuk tetap berpikir positif, fokus, dan profesional setelah tak lagi bisa menghubungi Monica. Oke, dia marah. Tapi bukan lantas aku pun tak bisa bekerja lagi. Dan, pulang kampung itu masih jadi pilihan yang baik sepertinya.

Lanjutkan membaca ‘The Journey, vol.13: The Offer’

The Journey, vol.12: The Thought

Meeting itu berjalan menjemukan. Tak ada hal yang begitu menarik, selain rencana strategis yang memang sudah sejak pertama kali aku akan berangkat, sudah kuketahui. Memang, aku seharusnya memberikan beberapa masukan. Tapi, ada beberapa hal yang membuatku tak melakukannya.

2 jam. Lalu kemudian coffee break. Ya, bagus. Setidaknya aku punya sedikit waktu untuk mengusir bebal di kepala ini karena sejak tadi disuguhi oleh kebosanan.

Aku beranjak ke ruang depan gedung. Melihat ke arah jalanan. Menikmati hilir-mudik angkot Bandung dan juga sekian banyak transportasi yang digunakan oleh setiap manusia. Dan seketika, aku teringat kampung halaman.

Bukan hiruk-pikuk yang kuingat, tapi ketenangan dan juga jarangnya kemacetan yang terjadi. Menikmati jalanan pagi dan sore hari dengan berjalan kaki. Biar seorang diri, tapi setiap langkah yang kuayunkan memiliki cerita.

Apa mungkin, jika selepas dari Bandung ini aku langsung pergi ke kampung halamanku? Sekadar melepas kepenatan dari deadline, sekaligus juga sebuah jeda di tengah-tengah kesibukan? Tapi, apa mungkin?

Sudah cukup lama sejak terakhir kali aku mengunjungi Tasikmalaya. Dan, tak ada salahnya sepertinya mengajukan cuti mendadak seperti ini kepada Paulo. Tapi, bukan Paulo yang aku cemaskan.

Kutekan speed dial di ponselku. Tak lama, terdengar nada sambung ponsel yang kutuju.

“Iya Sayang, ada apa?” jawab Monica segera di ujung telepon. “Kangen, ya? Aku juga kangen kamu..”

Lanjutkan membaca ‘The Journey, vol.12: The Thought’

The Journey, vol.11: The Occurence

“Kamu ga sama dia lagi? Sejak kapan? Gimana ceritanya?” Abdul buru-buru menyelesaikan makanannya, sambil kemudian meminum jus strawberrynya.

Aku diam. Membereskan makananku yang tak habis. Kenikmatannya hilang seketika dengan hadirnya nama yang telah lama kulupakan itu.

“Bisa dibilang, hubungan saya sama dia ga bisa dilanjutin karena satu dan lain hal. Dan, kita memang sepakat buat ngakhirin hubungan itu.” aku menjawab secara diplomatis.

“Tapi ‘kan, kamu selalu bilang kalo kamu pengen dia jadi yang terakhir?”

“Iya. Tapi dia belum tentu mikir yang sama dengan sama. Dia belum tentu pengen saya jadi yang terakhir.”

“Tapi… tapi.. dulu kalian pas masih SMA, keliatannya serasi banget!”

Aku tersenyum. Mencoba memberikan kedok bahwa aku baik-baik saja, meski ingatan itu membuat luka lama di hatiku terbuka lagi. Perih. Menyakiti. Tapi demi sahabat lama seperti Abdul, tentunya aku tak boleh memperlihatkan rasa sakit itu.

Lanjutkan membaca ‘The Journey, vol.11: The Occurence’

The Journey, vol.7: The Departure

6:45. Gambir.
Aku langsung naik ke peron setelah membayar taksi. Peron 3. Di situ nanti akan berada kereta yang akan membawaku ke Bandung pagi itu. Aku tak biasa naik kereta sepagi ini dari Gambir, tapi kuharap keretanya sepi. Yah, biar aku tak berdesak-desakkan masuk ke dalamnya.

Kuperhatikan hanya sedikit orang saja yang berbarengan denganku naik ke peron 3. Hmm.. baguslah. Bisa jadi memang sepi. Bisa jadi memang sedikit orang saja yang akan naik Argo Anggrek. Bisa jadi, di peron 3 sudah datang semua penumpangnya.

Tak sampai 5 menit, aku sudah sampai di peron 3. Dan benarlah, kereta Argo Anggrek sudah berada di sana. Dan, peron tampak sepi.

Aku membaca tiket di tanganku. Kucari nomor kursinya, dan nomor gerbongnya. Gerbong 3. Nomor kursi 3A. Lalu, kutatap gerbong di depanku. Kebetulan, ini juga gerbong 3. Bagus! Aku segera mencari pintu masuk terdekat.

Ketika aku menginjakkan kaki ke dalam gerbong 3 dan ingin mencari kursi tempatku, aku mendengar suara yang sepertinya kukenal. Ia tak berada jauh dari dekatku berdiri. Aku sebenarnya ingin mencarinya, tapi yah, biarlah saja. Masih ada yang lebih penting dibandingkan mencari tahu suara itu. Siapa tahu, itu hanya perasaanku saja.

Lanjutkan membaca ‘The Journey, vol.7: The Departure’

The Journey, vol.6: The Incident

Pagi itu aku bangun agak siang. Yah, 30 menit lebih lambat masih bisa dibilang agak siang kan? Jadi, aku biasa bangun jam 5 pagi, tapi hari itu aku bangun jam 5.30. Dan, setelah bangun, aku pun langsung masuk ke kamar mandi.

Sekitar 15 menit, aku selesai mandi dan menggosok gigi. Beres-beres. Mengecek koper kecilku, tas ransel yang berisi laptop, serta tiket kereta. Argo Anggrek. Jam 7. Gambir. Oke, aku pikir semuanya sudah siap.

Aku keluar dari apartemenku, dan menguncinya. Kemudian sambil berjalan menenteng koper di sebelah tangan dan ransel di punggung, aku menekan nomor telepon Monica.

Sekali. Dua kali. Tiga kali nada sambung sebelum akhirnya terdengar suara Monica.

“Halo, Cinta. Kamu mau berangkat, ya?” sahut Monica.

“Iya, nih. Aku sekarang mau jalan dari apartemen.” Jawabku.

“Yaudah. Hati-hati di jalan. Kamu naek taksi sampe Gambir, ‘kan? Motor disimpen di garasi gedung, kan?”

“Iya. Tenang aja. Ntar aku kabarin lagi kalo udah mau jalan dari Gambir, ya.”

“Take care, babe.”

“Oke, honey. Love you.” Kataku.

“Love you too.” Jawab Monica. Dan kemudian kututup sambungan telepon.
Lanjutkan membaca ‘The Journey, vol.6: The Incident’

The Journey, vol.5: The Harbor

Laut menyapaku dengan angin yang cukup kencang di muka. Dan kemudian, aku terasa terdorong balik ke laut. Bulan purnama. Pastinya malam yang sangat baik untuk berlayar. Tapi dermaga cukup sepi. Bisa jadi nelayan sudah pergi, atau justru mereka tak berangkat sama sekali.

Dia di sana. Di titik pertama kali aku membawanya ke sini. Mendudukkan diri di kursi. Dengan rambut yang tersibak karena angin, dan menghadap laut. Membelakangiku. Mendiamkanku. Tak peduli akanku meski aku sengaja membuat langkahku berbunyi.

“Ehem..” Aku berdeham sekali. Tapi tidak ada respon. Perlahan semakin kudekati dia sambil tetap berharap ia akan berbalik menghadapku. Tapi tidak. Meski aku sudah berdiri di belakangnya dan menghadap ke laut yang sama dengannya.

“Harusnya kamu bilang kalo kamu mau pergi ke luar kota.” Ia berkata tanpa membalikkan badan, ataupun menoleh padaku.

Lanjutkan membaca ‘The Journey, vol.5: The Harbor’

The Journey, vol.4: The Questions

“Loe ke Bandung berapa lama, Bil? Dua hari? Cepet amat..” kata Chris sambil menyuapkan sesendok makan siangnya yang berupa mie kocok ala Betawi di resto langganan kami.

“Yah, begitulah yang Paulo bilang. Gue juga rada kaget, coz dadakan banget. Dia kasitau gue tadi pagi, dan besok udah berangkat. Feeling gue bilang sih, harusnya dia yang pegi, atau mungkin orang laen. Tapi, dia ada keperluan ngedadak atau orang laen juga ga bisa, dan jadinya nyuruh gue buat gantiin berangkat.” Jawabku sambil juga menyuapkan mie kocok.

“Baguslah. Jangan-jangan, loe pulang dari Bandung jadi bos kita-kita nih..” sahut Chris sambil menengok ke beberapa teman-teman kerjaku yang lain, seperti Lia, Ricky, dan juga Evy.
Lanjutkan membaca ‘The Journey, vol.4: The Questions’


e-book terbaru dari Bersambung…


Burung Kertas dalam e-book

Hit Counter

  • 21,527 hits

RSS feeds

Agustus 2017
M S S R K J S
« Des    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
Creative Commons License


bloggerhood