Posts Tagged 'naskah'

The Journey, vol.13: The Offer

Sisa hari kuhabiskan dengan pembahasan yang menjemukan di meeting yang sama setelah break. Dan, meski semua materinya aku sudah tahu, tapi aku tak lagi diam saja. Aku memberikan beberapa masukan, dan juga usulan ke para peserta rapat.

Beberapa usulanku sepertinya mengena. Bukan karena aku utusan dari Jakarta, tapi lebih kepada usulanku belum terpikir oleh mereka. Dan yah, aku berharap usulan-usulan itu memang bisa berguna dan kemudian dijalankan sehingga kantor Bandung ini menjadi lebih maju dibanding sebelumnya. Terutama strategi visualisasi kreatif yang nantinya akan dikembangkan di sini.

Sikapku yang tak lagi diam dan juga lontaran-lontaran usul tersebut tak lain karena aku mencoba untuk tetap berpikir positif, fokus, dan profesional setelah tak lagi bisa menghubungi Monica. Oke, dia marah. Tapi bukan lantas aku pun tak bisa bekerja lagi. Dan, pulang kampung itu masih jadi pilihan yang baik sepertinya.

Lanjutkan membaca ‘The Journey, vol.13: The Offer’

Iklan

The Journey, vol.3: The Preparation

“Ini tiket kereta, dan ini data hotel tempat kamu nginep besok, Bil.” Carla menyerahkan sebuah amplop berisikan selembar tiket kereta, dan secarik kertas bertuliskan nama dan alamat hotel tempatku menginap besok.

“Ada uang buat pegangan ga?” tanyaku.

“Ada. Bentar ya. Duitnya lagi di perjalanan. Abis, tadi nunggu-nunggu approval lama banget. Coz, Paulo ngedadak banget sih. Harusnya sih, ga bisa. Tapi yah, bukan Carla kalo ga bisa.” Carla senyum sambil ngedipin sebelah matanya.

“Hehe.. aku ga kebayang anak-anak lantai sini bakal idup kalo ga ada kamu.”
Lanjutkan membaca ‘The Journey, vol.3: The Preparation’

#19. a little bit

Mai sudah bersiap tidur. Piyamanya sudah ia kenakan. Manis. Sweet! Tak seberapa lama, ia menguap.
“Hoo-aaa…-hem…”
Mai menjatuhkan dirinya di atas ranjangnya. Berkat pegas mahal yang berada di dalam ranjangnya, ia seperti melompat-lompat. Perlahan, ia memejamkan matanya.
Hihihi…Ternyata akhirnya jadian juga sama Gio. Padahal, kapan yah gue ngebet banget sama dia? Gue nggak inget!
Mai membuka matanya. Ia bangkit. Tangannya menggapai-gapai laci meja. Serentak, ia membuka. Ia keluarkan diary usang yang sudah lama menemaninya.
Mai membuka halaman terakhir yang masih kosong. Sebentar kemudian, ia sudah mulai mencurahkan isi hatinya pada teman setianya itu. Lanjutkan membaca ‘#19. a little bit’

#18. kesempatan terakhir

“Kamu yakin sama keputusan kamu ini ‘kan, Mai?”
Mai menatap Alexa di depannya.
“Yap. Saya cukup yakin sama keputusan ini, Mbak. Bener.”
“Tolong diinget, ya. Segala keputusan itu, punya konsekuensi sendiri-sendiri sesuai sama keputusan itu.”
“Ya, Mbak. Saya tahu itu.”
“Kamu nggak mau mikir lebih lama lagi? Ini mungkin kesempatan pertama, sekaligus kesempatan terakhir kamu, lho.”
Diam. Mai menatap Alexa yang kini berdiri.
“Saya kira, nggak perlu. Takutnya, nanti kalo kelamaan malah berubah lagi keputusannya.”
Alexa menghela napasnya.
“Kamu nggak nyesel?”
“Buat apa saya nyesel? Pastinya, ada kebaikan tersendiri dari keputusan saya itu, Mbak.”
“Wah, pastinya banyak sekali, Mai. Banyak sekali. Apalagi, setelah denger alesan kamu tadi, saya makin yakin, kalo kamu emang bener-bener seperti apa yang saya kira.”
“Ya. Makasih, Mbak udah ngertiin saya.”
Alexa tersenyum, walau hatinya tak karuan. Ia bingung harus bagaimana lagi terhadap Mai ini.
“Saya permisi.”
Mai bangkit. Ia menuju pintu keluar.
“Mai.” Lanjutkan membaca ‘#18. kesempatan terakhir’

#17. pergi

Mai sudah siap berangkat pagi itu. Ia masih mematut dirinya di depan cermin. Merapikan pakaian, dan juga menambah beberapa bedak di wajahnya. Tak lupa, parfum.

Diam. Mai menatap wajahnya. Cantik.

“Hmm, apa gue harus ngedatengin Mbak Alexa itu, ya?”

Diam. Mai memikirkan segalanya. Ia mempertimbangkan semuanya. Kehidupannya. Pelajarannya. Sekolahnya. Cita-citanya.

“Ini rezeki, Mai. Inget, tuh! Tapi, gue ‘kan nggak pernah pengen jadi bintang iklan. Yah, kalo kemaren sih, emang ngebet. Tapi, kok sekarang jadinya males-malesan, nih! Kenapa, ya? Apa perlu nanya Gio…?”

Mai mengingat-ingat lagi peristiwa kemarin. Ketika Gio berusaha memperbaiki motornya meski tetap tak bisa menyala. Ketika akhirnya ia memutuskan untuk menunggu. Ketika Gio menyuruhnya pergi, meski sebenarnya dia pun tahu, dalam hatinya Gio tak ingin agar dia pergi.

Masa sih, gue harus ninggalin itu semua? Terus, pengorbanan selama ini, buat apa?

Diam. Mai menghela napas panjang. Ia menghembuskan napas sepenuhnya.

“Gimana, ya?” Lanjutkan membaca ‘#17. pergi’

#16. surprise!

Sudah malam ketika Gio mengantarkan Mai ke rumahnya. Mereka menggunakan taksi. Motor Gio ternyata harus masuk ke bengkel, karena Gio ternyata tak bisa menemukan apa yang salah dengan motornya itu.
BLAK!
Gio menutupkan pintu taksi. Tak lama, taksi itu kemudian pergi. Mai menatapnya. Mencoba tetap tersenyum, meski berat untuk dilakukan. Gue tau, Gio! Gue sekarang udah tau!
“Maaf, ya. Jadinya begini. Aku bener-bener minta maaf banget.”
“Nggak apa-apa, Gio. Jangan ngerasa salah gitu, dong. Nyantei aja. Gue sendiri yang nggak ngikutin audisi, biasa-biasa aja tuh!”
Gio memaksakan dirinya tersenyum mendengar kata-kata itu. Sebenarnya, kata-kata itu mengiris hatinya. Tapi, ia tak bisa berbuat banyak.
“Sori, sekali lagi.”
Mai menatap sahabatnya itu. Ia tak pernah melihat Gio seperti malam itu. Sepertinya, Gio begitu menyesal dan kesal. Tapi, kalau boleh jujur, dalam hati terdalamnya pun, Mai terluka dan sangat menyesal. Ia ingin sekali marah, tapi ia tak boleh menunjukkannya di depan Gio. Nggak bisa! Tahan dulu!
Mai membuka pintu gerbang, dan segera menuju teras rumahnya. Gio mengekor di belakangnya.
“And so,…” Lanjutkan membaca ‘#16. surprise!’

#15. nggak jadi, tuh!

“Kemaren sampe jam berapa?”
Diam. Gio menatap Nos tak mengerti.
“Apanya?”
“Yee, katanya nganterin Mai audisi? Gimana, sih?”
“Ooh, itu. Sampe malem. Emang kenapa?”
“Yah, situ pastinya lupa kalo kemaren kita kerja kelompok, ‘kan?”
PLAK!
Gio memukul dahinya keras sekali.
“Wah, iya! Aku lupa!”
“Nah, makanya ‘kan!”
“Duh, sori banget, ya! Emang, ngapain aja?”
“Yah, kalo situ pikir nyusun makalah itu gampang sih, kita kemaren juga paling udah selesai bikin draft makalah.”
“Waduh, jadi nggak enak, nih!”
“Ya, udah seharusnya-lah!”
“Maaf banget, ya. Aku harus gimana nih, buat ngegantinya?”
Diam. Nos berpikir sebentar.
“Hmm, nanti aja deh. Ay pikir-pikir dulu.”
“Sip, deh!”
Gio kembali menyantap makanan mie ayamnya.
“Tumben banget situ telat dateng ke skul.” Lanjutkan membaca ‘#15. nggak jadi, tuh!’