Posts Tagged 'non-fiksi'

The Journey, vol.2: The Assignment

Pagi itu rasanya biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa kecuali kemacetan Jakarta yang akan langsung kutemui selepas aku keluar dari gang tempat tinggalku. Yah, memang inilah yang menjadi ciri khas dari Jakarta. Sebuah kota megapolitan yang terjebak dalam arus kemacetan yang menjadi rutinitas bagi setiap warganya.

Urban. Begitulah istilah yang sering dikemukakan oleh banyak orang mengenai “kotaku” ini. Alih-alih bangga, aku justru teringat dengan sebuah film yang sampai “berseri” dan muncul dengan beragam versi. Sampai-sampai terkadang aku bergidik. Karena bisa saja salah satu cerita di film itu masih ada saat ini.

Arlojiku masih menunjukkan jam 7 pagi ketika aku sudah menyusuri jalan raya menuju kantor. Sepi. Karena aku memang sengaja memilih jalan tikus yang tak terlalu ramai, tapi cukup efektif menghindari kemacetan untuk mendekatkan aku dengan kantor. Meski memang, setelah dari jalan tikus itu aku tetap harus ke jalan raya yang ramai, tapi yah.. setidaknya aku tidak terlalu suntuk dengan kemacetan. Lanjutkan membaca ‘The Journey, vol.2: The Assignment’

Iklan

The Journey, vol.1

“Saat kau merasa sangat jenuh dengan hidup, kembalilah ke tempat kau berasal. Ke tempat di mana kau merasa berada di rumah.”

Rumah. Aku sudah lupa apa arti lima huruf yang membentuk satu kata itu. Setidaknya, itulah yang kurasakan beberapa tahun belakangan ini. Karena sebenarnya, dulu aku tahu di mana rumah itu. Tapi sekarang?

Orang bilang, rumah adalah tempat untuk berteduh. Melindungi diri dari cuaca, panas, dingin, dan berkumpul bersama keluarga atau orang yang disayang. Hmm.. ada benarnya juga. Tapi, hanya bagian yang melindungi diri dari cuaca, panas, dan dingin. Berkumpul bersama keluarga? Hmm.. memang kulakukan sih, tapi.. keluarga siapa?

Jiwa seorang penjelajah sepertinya benar-benar termaktub dalam jalan hidupku. Aku gemar sekali untuk menjelajahi tempat-tempat baru, ataupun tempat lama namun memiliki makna historis yang sangat mengena bagiku. Maka tak jarang, aku sering mengunjungi beberapa monumen dan juga museum, hanya sekedar untuk memuaskan dahagaku akan kehidupan lampau. Tapi, itu tak cukup. Lanjutkan membaca ‘The Journey, vol.1’